Keran Ekspor AMNT Ditutup, Penerimaan Negara Langsung 'Stuck'!
#MATARAM - Ekonomi Nusa Tenggara Barat (NTB) baru saja memamerkan ototnya dengan mencetak rekor pertumbuhan yang sangat fantastis pada Triwulan I-2026.
Namun, euforia ini dipastikan bakal berumur pendek. Di balik angka-angka mentereng yang baru saja dirilis, tersimpan bom waktu yang siap meledak: kebijakan relaksasi izin ekspor konsentrat tembaga milik PT Amman Mineral Nusa Tenggara (AMNT) di Kabupaten Sumbawa Barat telah resmi berakhir pada 30 April 2026.
Mulai 1 Mei 2026, keran ekspor konsentrat raksasa tambang tersebut resmi ditutup total.
Dampaknya dipastikan bakal menghantam keras kas negara serta laju pertumbuhan ekonomi NTB pada triwulan-triwulan berikutnya.
#Sektor Ekspor dan Tambang Meroket Ugal-ugalan
Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi NTB yang dirilis oleh Kepala BPS NTB, Wahyudin, ekonomi NTB pada Triwulan I-2026 sebenarnya tumbuh luar biasa, yakni mencatatkan pertumbuhan 13,64 persen secara year-on-year (y-on-y).
Angka ini menempatkan NTB sebagai provinsi dengan pertumbuhan ekonomi tertinggi kedua di Indonesia setelah Maluku Utara.
Jika dibongkar lebih dalam, penopang utama lonjakan ugal-ugalan ini tidak lain adalah sektor pengerukan tambang dan industri pengolahannya:
Pertambangan dan Penggalian: Melesat tumbuh 31,80 persen (y-on-y) yang dipicu oleh genjotan produksi konsentrat.
Industri Pengolahan (Smelter): Tumbuh raksasa sebesar 60,25 persen (y-on-y).
Ekspor Barang dan jasa Meroket luar biasa hingga 91,87 persen (y-on-y)!
Lompatan hampir 100 persen dari sisi pengeluaran ini terjadi karena aktivitas smelter AMNT sudah mulai menghasilkan komoditas ekspor, sementara pada periode yang sama tahun 2025 lalu, aktivitas smelter tersebut belum menghasilkan komoditas ekspor sama sekali.
Ditambah dukungan dari lapangan usaha jasa keuangan dan asuransi yang turut menyumbang pertumbuhan 13,48 persen akibat peningkatan output Bank Umum.
#Penerimaan Bea Keluar Langsung 'Stuck'
Namun, semua catatan emas itu kini langsung dihadapkan pada tembok tebal. Kepala Kantor Pengawasan dan Pelayanan Bea Cukai (KPPBC) Sumbawa, Sugeng Hariyanto, mengonfirmasi kebenaran berhentinya aktivitas ekspor konsentrat tembaga ini pada Rabu (13/5/2026).
"Izin ekspor konsentrat tembaga kemarin berakhir pada 30 April, sehingga mulai 1 Mei sudah tidak ada kegiatan ekspor konsentrat lagi," tegas Sugeng.
Padahal, kontribusi dari pos ini adalah penyumbang dana terbesar. Sepanjang Triwulan I-2026, realisasi penerimaan kepabeanan dan cukai yang dikelola KPPBC Mataram dan Sumbawa berpeforma sangat positif dengan mendulang total Rp789,05 miliar (81,39 persen dari target).
Ironisnya, dari total pendapatan sekira Rp789 miliar tersebut, kontributor paling jumbo justru datang dari bea keluar ekspor konsentrat tembaga PT AMNT yang menembus Rp774,64 miliar atau 87,39 persen dari target. Dengan berhentinya izin ekspor ini, penerimaan negara dari sisi bea keluar otomatis langsung mandek alias stuck.
#Smelter AMNT Malah Perbaikan, Emas Hanya Dijual Domestik
Publik mungkin bertanya, bukankah PT AMNT memiliki smelter baru yang bisa mengekspor komoditas hilirisasi lain seperti emas untuk menambal kekosongan bea keluar?
Fakta di lapangan justru berbicara sebaliknya. Berdasarkan aturan hukum dalam Peraturan Menteri Keuangan (PMK) Nomor 80 Tahun 2025, ditargetkan ada penerimaan dari bea keluar ekspor emas sebesar Rp300 miliar. Namun nyatanya, sejak Januari 2026 hingga pertengahan Mei ini, PT AMNT belum melakukan kegiatan ekspor emas sama sekali.
"Jadi mulai Januari 2026 ini, emas produksi smelter PT AMNT itu dijual ke domestik, dalam hal ini adalah ke PT Antam, belum dilakukan kegiatan ekspor," ungkap Sugeng membeberkan fakta, Rabu, 13 Mei 2026.
Selain itu, produk smelter lainnya berupa copper cathode (katoda tembaga) memang tetap diekspor pada triwulan pertama, namun produk hilirisasi ini tidak dikenakan beban bea keluar. Kondisi makin dipersulit lantaran saat ini smelter PT Amman Mineral dikabarkan sedang dalam kondisi shutdown alias mati total untuk proses perbaikan, sehingga aktivitas produksi di sana merosot drastis dibanding tahun lalu.
#Catatan Merah Metromini:
Tantangan Nyata Menanti NTB
Sangat miris melihat realita ini. Di saat angka pertumbuhan ekspor dan ekonomi NTB baru saja dipuji setinggi langit karena menyentuh angka 91,87 persen, fondasi utamanya justru langsung diruntuhkan oleh berakhirnya izin relaksasi ekspor per 1 Mei.
Angka-angka indah dari BPS di awal tahun ini berpotensi besar hanya menjadi klimaks sesaat.
Jika pemerintah daerah dan pusat tidak segera memutar otak mencari strategi alternatif selain bergantung total pada industri tambang mentah PT AMNT, siap-siap saja melihat angka pertumbuhan ekonomi NTB pada triwulan berikutnya meluncur bebas jatuh ke titik nadir. Daerah tidak boleh terus-menerus dininabobokan oleh komoditas yang sewaktu-waktu kerannya bisa tersumbat regulasi!
Di sisi lain, pihak PT. AMNG dan Pemprov NTB masih dikonfirmasi kembali terkait informasi ini. (#RED/AI/Mawardy)
📷: Dok. Metromini Media/AI
#SUMBER : IDN Times NTB
* #MetrominiMedia
* #AmmanMineral
* #PTAMNT
* #EkonomiNTB
* #SumbawaBarat
* #NusaTenggaraBarat
* #StopEksporAMNT
* #KrisisEkonomiNTB
* #BeaCukaiSumbawa
* #BPSNTB
* #TambangSumbawa
* #SmelterAMMAN
* #BeritaNTB
* #InfoNTB
* #MataramInfo
* #SumbawaInfo
* #BimaInfo
* #NTBHariIni




Silahkan berkomentar secara bijak dan sesuai dengan pembahasan tulisan.