Investasi Fisik Kota Bima Dinilai Minim Dampak Ekonomi, Akademisi Soroti Pola Pembangunan Berulang

 


#KOTA BIMA – Kritik terhadap pola pembangunan di Kota Bima kembali mencuat. Akademisi muda sekaligus penerima beasiswa program doktor dari Kementerian Pendidikan Taiwan di salah satu universitas negeri di Taiwan, Fajrin Harn, menilai efektivitas investasi pemerintah daerah masih sangat lemah dan belum mampu mendorong pertumbuhan ekonomi yang konkret bagi masyarakat.

Melalui pernyataan panjang yang beredar di media sosial pada Rabu, 13 Mei 2026, Fajrin mengungkapkan bahwa sejak periode 2018–2019 dirinya telah mengkritik sejumlah proyek pembangunan fisik di Kota Bima. Mulai dari pembangunan food court di Lapangan Pahlawan Raba hingga pemasangan lampu hias di kawasan Jembatan Kampung Bara dan Penatoi yang disebut menelan anggaran miliaran rupiah.

“Teorinya sudah benar, logika penerapannya yang keliru. Sekarang jadi apa? Silakan lihat sendiri,” tulisnya.

Menurutnya, berbagai proyek yang sebelumnya digadang-gadang menjadi penggerak ekonomi justru tidak memberikan dampak signifikan terhadap aktivitas masyarakat maupun pertumbuhan usaha lokal.

Kritik serupa juga diarahkan pada penataan kawasan Paruga Nae pada 2023–2024. Ia menyebut sejumlah pedagang kaki lima mengalami penurunan pendapatan bahkan gulung tikar pasca relokasi dilakukan.

“Sebagian beralih jadi ojol, sebagian lainnya tetap bertahan jualan di area berbeda dengan laba yang menurun signifikan,” ungkapnya.

Fajrin menilai pola pembangunan Kota Bima dari masa ke masa cenderung berulang, yakni berfokus pada pembangunan fisik, penataan ulang kawasan, serta renovasi ruang publik dengan harapan dapat menggerakkan ekonomi masyarakat. Namun menurutnya, dampak yang muncul hanya bersifat tren sesaat dan belum menciptakan pertumbuhan ekonomi jangka panjang.

Ia juga menyoroti meningkatnya jumlah pekerja informal di NTB sepanjang 2024–2026. Berdasarkan hitungannya, sekitar 65 ribu pekerja formal beralih menjadi pekerja informal, sementara pekerja paruh waktu meningkat hingga 140 ribu orang.

“Kota Bima kemungkinan menjadi salah satu penyumbang sektor informal terbesar karena struktur ekonominya lebih bertumpu pada perdagangan dan jasa,” katanya.

Meski demikian, Fajrin menegaskan dirinya tidak anti terhadap pembangunan fisik. Ia menilai pembangunan infrastruktur dan ruang publik tetap penting selama mampu menciptakan efek ekonomi nyata bagi masyarakat luas.

Sorotan paling tajam diarahkan pada rendahnya efektivitas investasi daerah yang disebut tercermin dari angka Incremental Capital Output Ratio (ICOR) Kota Bima.

“Pada perubahan tahun 2024–2025 nilainya hanya sekitar 0,009. Artinya investasi fisik yang dilakukan belum cukup mendorong peningkatan ekonomi secara kuat,” jelasnya.

ICOR \approx 0{,}009

Ia kemudian mempertanyakan alasan pemerintah terus mempertahankan pola pembangunan serupa jika dampak ekonominya dinilai sangat kecil.

“Masalahnya bukan pada logika investasinya, tapi kepada siapa manfaat investasi itu mengalir lebih besar, kepada masyarakat atau kepada pengembang proyek?” tutupnya. (#RED/AI/Mawardy)


📸: Dok. Metromini Media/AI

#KotaBima

#Bima

#NTB

#MetrominiMedia

#BeraniDanLugas

#FajrinHarn

#PembangunanDaerah

#EkonomiDaerah

#InvestasiDaerah

#ICOR

#PembangunanKota

#AkademisiBima

#ParugaNae

#LapanganPahlawanRaba

#KritikPembangunan

#InfrastrukturPublik

#PekerjaInformal

#TaiwanScholarship

#BeasiswaDoktor

#PemerintahDaerah

Related

Opini 3300616405928180032

Posting Komentar

Silahkan berkomentar secara bijak dan sesuai dengan pembahasan tulisan.

emo-but-icon

IKLAN STIE BIMA

 


FANSPAGE METROMINI

METROMINI VIDEO



Arsip Blog

Ikuti Tweet Metromini

item