Adu Pantun Tarif Angkutan Jagung di Media Sosial, Nama Pengurus ORGANDA Ikut Disorot "Ramli: Ongkos Jagung Bima-Surabaya Naik Dari Rp300 ke Rp800 per Kilo"
#KOTA BIMA – Polemik tarif angkutan jagung rute Bima–Surabaya memanas di media sosial setelah terjadi saling sindir antara sejumlah akun Facebook yang menyinggung peran pengurus ORGANDA dalam mengendalikan biaya distribusi hasil panen jagung.
Perdebatan itu bermula dari unggahan akun atas nama Rafik Rahman yang menulis sindiran bernada pantun, “Ore Aka Toko Mainan Neesi Fuso (banyak di toko mainan kalau ingin kendaraan fuso),” disertai komentar terkait kontrak jasa angkutan oleh pengusaha jagung.
Komentar itu ditulis oleh Rafik Rahman yang klaim sebagain pihak organda yang telah lebih dahulu melakukan kontrak dengan pemilik jasa angkutan sebelum musim panen dimulai.
Unggahan tersebut kemudian mendapat tanggapan keras dari akun Ramli Ram (pengusaha jagung, red) pada Kamis, 8 Mei 2026.
Dalam komentarnya, Ramli menilai kenaikan ongkos angkut jagung sangat berdampak terhadap masyarakat, pedagang hingga petani jagung di wilayah pegunungan.
“Kalau ORGANDA tidak mampu mengkondisikan armada truk dan fuso, dampaknya langsung terasa ke rakyat dan pedagang. Awalnya ongkos sewa rute Bima–Surabaya cuma Rp300–350 per kilogram, sekarang melonjak sampai Rp800 bahkan Rp900 per kilogram,” tulis Ramli Ram, Jum'at, 8 Mei 2026.
Ia menyebut lonjakan biaya distribusi itu dikaitkan dengan isu kenaikan harga BBM yang kemudian memicu naiknya tarif angkutan barang.
Menurutnya, kondisi tersebut membuat para pengusaha dan petani jagung ikut tertekan karena harga jual jagung bisa turun akibat tingginya ongkos pengiriman.
“Akibatnya bukan cuma pengusaha yang menjerit, petani jagung gunung juga ikut terpukul karena harga jual jagung bisa ditekan akibat tingginya biaya angkutan,” lanjutnya.
Ramli juga meminta adanya koordinasi antara pengusaha angkutan, sopir, pedagang dan ORGANDA agar tarif distribusi tidak naik secara liar menjelang panen raya.
“Yang dibutuhkan rakyat itu langkah nyata, koordinasi kuat, dan solusi bersama antara pengusaha angkutan, sopir, pedagang, serta ORGANDA agar tarif tidak naik liar dan distribusi hasil panen tetap stabil,” tulisnya lagi.
Namun sindiran kembali muncul ketika Ramli menanggapi pernyataan soal “toko truk mainan” yang dianggap tidak menyentuh persoalan utama masyarakat.
“Rakyat lagi bicara ongkos nyata, dia malah kasih solusi dunia anak-anak,” sindirnya dalam unggahan yang disertai tagar #Tuta_KolaNakal dan #Cila_Mboko_Bersatu.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada pernyataan resmi dari pihak ORGANDA terkait polemik tarif angkutan jagung maupun saling balas komentar yang ramai di media sosial tersebut.
Fenomena ini menjadi perhatian publik karena distribusi jagung merupakan salah satu sektor penting bagi perputaran ekonomi masyarakat Kabupaten Bima, terutama menjelang musim panen. (#RED/AI/Mawardy)
📷: Dok. Metromini Media/A
#Bima
#MetrominiMedia
#BeraniDanLugas
#JagungBima
#TarifAngkutan
#ORGANDA
#PetaniJagung
#DistribusiJagung
#BimaSurabaya
#PanenJagung
#SopirTruk
#Fuso
#HargaJagung
#EkonomiRakyat
#CilaMbokoBersatu
#TutaKolaNakal




Silahkan berkomentar secara bijak dan sesuai dengan pembahasan tulisan.