MBG dan Ancaman “Makanan Seragam”, Pengamat Sosial Ingatkan Soal Budaya Pangan Anak

 


#NTT – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) kembali menjadi sorotan publik setelah muncul berbagai kasus dugaan keracunan makanan di sejumlah daerah. Di tengah tujuan mulia pemerintah meningkatkan gizi anak bangsa, muncul kritik terhadap pola distribusi dan konsep penyeragaman menu makanan bagi anak-anak Indonesia yang memiliki latar budaya pangan berbeda-beda.

Seorang pengamat sosial dan budaya lokal, dalam refleksinya yang diterima #Metromini Media, Kamis (7/5/2026), menilai Indonesia memiliki keragaman makanan tradisional yang sudah lama menjadi bagian dari sistem kesehatan alami masyarakat.

“Bagi si Lorens, Domi, Jammy, nasi jagung, jagung bose, gurita dan ikan segar adalah makanan bergizi. Sementara Naf dan Yoris terbiasa dengan papeda dan kuah kuning ikan tenggiri. Indonesia itu kaya budaya makan,” ungkapnya.

Ia menilai pola makanan masyarakat tidak bisa dipukul rata hanya demi efisiensi program nasional. 

Menurutnya, lambung manusia memiliki kebiasaan adaptasi berbeda berdasarkan lingkungan dan budaya setempat.

“Cukuplah baju seragam dan sepatu seragam. Jangan juga makanan diseragamkan,” tegasnya.

Ia juga menyinggung fakta masih banyak anak-anak yang hidup dalam kondisi memprihatinkan di tengah kota-kota besar. Anak-anak tersebut, kata dia, bahkan untuk makan sehari sekali saja sudah dianggap beruntung.

“Mereka lahir dari lorong-lorong beton, dari pondamen pencakar langit. Atap rumah mereka langit, kamar mereka tumpukan sampah dan rongsokan,” katanya.

Meski mendukung semangat dasar program MBG, ia mengingatkan bahwa program pemberian makan massal kepada jutaan anak membutuhkan pengawasan ketat, terutama terkait kualitas makanan dan distribusi.

“Roh dari MBG itu memanusiakan manusia. Tapi ini soal memberi makan jutaan mulut. Ada rantai makanan dan ada kepentingan ekonomi di dalamnya,” ujarnya.

Ia menyoroti munculnya kasus keracunan makanan yang menurutnya dapat menimbulkan trauma bagi anak-anak maupun orang tua.

“Ketika ikan dan udang tiba dalam wadah lalu jadi beracun, itu menjadi trauma bagi anak-anak,” katanya lagi.

Menurutnya, faktor perjalanan distribusi yang panjang, penyimpanan makanan, hingga orientasi keuntungan dapat menjadi penyebab menurunnya kualitas makanan yang diberikan kepada siswa.

“Keinginan balik modal, biaya operasional, gaji karyawan dan kalkulasi ekonomi bisa membuat jumlah bakteri dalam makanan bertambah,” ucapnya.

Ia meminta pemerintah tidak menjadikan program MBG sekadar proyek formalitas, melainkan benar-benar fokus pada kesehatan anak-anak.

“Perut manusia bukan lahan uji coba kompetensi. MBG harus meningkatkan kualitas hidup anak-anak agar lebih sehat dan kuat menghadapi masa depan,” tuturnya.

Di akhir pernyataannya, ia mengajak semua pihak memperbaiki pola pikir dalam menjalankan program pangan nasional.

“Saatnya bukan hanya perut yang diberi gizi, tapi juga otak dan pikiran kita,” pungkasnya. (#RED/AI/Mawardy)


#SUMBER:

Unggahan akun Facebook Christanto Tanto berjudul “#Makanan Seragam#”, diakses Kamis, 7 Mei 2026.

📷: Dok. Metromini Media/AI

#MetrominiMedia

#BeraniDanLugas

#MBG

#MakanBergiziGratis

#MakananSeragam

#GiziAnak

#BudayaPangan

#StopKeracunanMakanan

#AnakBangsa

#IndonesiaKayaPangan

#SuaraRakyat

#KesehatanAnak

#Stunting

#PanganLokal

#OpiniPublik

Related

NTT 2763179871795433787

Posting Komentar

Silahkan berkomentar secara bijak dan sesuai dengan pembahasan tulisan.

emo-but-icon

IKLAN STIE BIMA

 


FANSPAGE METROMINI

METROMINI VIDEO



Arsip Blog

Ikuti Tweet Metromini

item