Setelah Dipindahkan dari Rutan Bima, Mega Ungkap Anaknya Diduga Dianiaya Kepala Rutan Bima di Lapas Dompu
![]() |
| Febi Juliawan warga binaan yang diduga dianiaya oleh Kepala Rutan Bima di Lapas Dompu beberapa waktu yang lalu. METROMINI/Dok |
KOTA BIMA - Rifaid alias Mega, orang tua warga binaan di Rutan Buma yang bernama Febi Juliawan warga Rabadompu Barat, Kota Bima menyesalkan sikap dari Kepala Rutan Bima, Tajuddinur.
Pasalnya, Mega menceritakan, di bulan November tahun 2025. Pihak keluarganya dikagetkan atas kepindahan anaknya dari Rutan Bima ke Lapas Dompu yang secara tiba-tiba.
"Anak saya (Febi, red) dipindahkan bersama dua pamannya Syaifulah dan Joni serta dua orang warga binaan lain ke Lapas Dompu sekitar bulan November 2025," ungkap Mega di Kediamannya, Senin, 5 Januari 2026 pagi.
Kata dia, awal ceritanya, Febi dipindahkan karena membela warga binaan lain yang diisolasi akibat masalah warga binaan lain dengan petugas saat disuruh memungut puntung rokok di selokan yang ada di pinggir lapangan Rutan.
Saat kejadian itu, lanjut dia, tidak ada insiden kekerasan atau pengrusakan fasilitas kantor. Tapi mungkin ada perdebatan antara Febi dengan petugas saat membahas warga binaan yang diisolasi. Namun, tak lama setelah itu, dengan arogannya Kepala Rutan Bima memindahkan Febi dan dua pamannya bersama dua warga binaan lain ke Lapas Dompu. Status Febi pun diberikan sanksi register F yang berakibat susah untuk mengurus bahan pembebasan nantinya.
"Kami pihak keluarga mempertanyakan soal kesalahan fatal apa sehingga keluarga saya saja yang dipindahkan ke Lapas Dompu? Apa perpindahan ini sudah memang seharusnya dilakukan atas kesalahan yang terjadi? Atau sikap ini hanya karena penilaian pribadi Kepala Rutan karena tak suka dengan keluarga kami. Kami ingin sekali mendengar penjelasan dari Kepala Rutan Bima soal ini," tandas dia.
Ia melanjutkan, setelah Febi dipindahkan ke Lapas Dompu. Beberapa hari kemudian, ada kunjungan Kepala Rutan Bima ke Lapas Dompu yang kabarnya hendak ke Lombok tapi singgah di Lapas Dompu.
"Dalam kunjungannya itu, Febi dikeluarkan dari ruangan isolasi oleh petugas dan dianiaya oleh Kepala Rutan Bima di salah satu ruangan di Lapas Dompu. Ini pengakuan anak saya saat berbicara dengan mamanya," ungkapnya serius.
Sebagai bapak kandungnya, ia sangat tidak terima tindakan premanisme yang dilakukan oleh Kepala Rutan Bima. Dan ia pun mempertanyakan kapasitas Kepala Rutan Bima di Lapas Dompu sehingga bisa mengintervensi petugas dan semena-mena di sana. Diakuinya, akibat insiden itu Febi mengalami penderitaan yang parah hingga beberapa hari tak bisa makan.
"Kenapa Kepala Rutan Bima bisa berbuat seenaknya di Lapas Dompu. Lantas bagaimana aturan yang ada di Lapas. Apa bisa melakukan tindakan premanisme seperti itu oleh petugas?," sorotnya tajam.
Ia berharap, demi keadilan dan tegaknya aturan yang ada di Lembaga Rutan atau Lapas. Ketika ada sikap petugas yang main hakim sendiri atau pimpinan semena-mena dan menyalahgunakan wewenang yang ada. Mohon diproses secara terbuka dan bila hasilnya memang diputus bersalah harus diberi sanksi yang tegas agar menjadi pelajaran ke depan.
"Jika memang ada petugas atau pimpinan di Rutan atau di Lapas yang melanggar aturan main atau menyalahgunakan wewenangnya. Mohon ditindak dengan tegas dan diberi sanksi yang seberat-beratnya. Dan dalam proses masalah inu mohon diungkap secara terbuka dan jangan sampai ada intimidasi tambahan terhadap warga binaan yang menjadi korban saat ini;" tutur Mega yang ditemani istri dan keluarganya di Kelurahan Rabadompu Barat, Kota Bima.
Ia sangat berharap agar memperlakukan warga binaan sebagai manusia. Jangan dilihat para narapidana sebagai binatang yang mudah untuk ditindas oleh oknum petugas.
"Warga binaan itu manusia. Harusnya pembinaan di Lapas dan Rutan bisa lebih memanusiakan manusia. Jangan suka menyalahgunakan kekuasaan untuk menindas yang lemah. Apa ada aturan boleh menganiaya warga binaan? Tidak hanya petugas kalau pimpinan di Lapas atau Rutan melanggar, sanksinya harus lebih tegas," tutupnya.
Sementara itu, pihak Metromini Media yang mencoba konfirmasi ke Kepala Rutan Bima, Tajuddinur membenarkan adanya perpindahan beberapa warga binaan yang terkait dalam berita inu
Namun, untuk kronologis kejadian maupun tuduhan dari keluarga binaan atas tindakan penganiayaan yang dilakukan pihaknya. Ia belum ingin menyampaikan secara langsung dan meminta cerita masalah ini tidak diekspose ke publik lebih dulu.
"Memang ada yang dipindah. Dan itu hal biasa. Kronologisnya bisa saya ceritakan tapi jangan disebarluaskan," pinta Pejabat muda itu di kediaman dinasnya belum lama ini kepada Metromini.
Selanjutnya, Kepala Lapas Dompu masih dikonfirmasi lebih lanjut atas pemberitaan ini. (RED)




Silahkan berkomentar secara bijak dan sesuai dengan pembahasan tulisan.