4 Bulan Proyek NUFReP Tertunda di Santi dan Monggonao, Syamsuri Turun Lokasi, Hadirkan Solusi

SSyamsurih Ketua DPRD Kota Bima bersama para pejabat terkaitturun lokasi menyelesaikan masalah lahanqga dalam pelaksanaan Program NUFReP di Kelurahan Santi dan Monggonao, Selasa, 20 Januari 2026. METROMINI/Dok

KOTA BIMA - Program Bank Dunia di kegiatan NUFReP dalam paket proyek Drainase Primer yang sedang dilaksanakan di Kota Bima. Ternyata, mengalami saat pekerjaan dilakukan di Kelurahan Santi dan Monggonao.

Pasalnya, terkuaknya masalah antara warga dan PT. Nindya Karya terujgkap saat digelar Rapat Dengar Pendapat (RDP) yang berlangsung di Ruangan Komisi III DPRD Kota Bima, Selasa, 20 Januari 2026.

Kepada Metrominimedia.com. Ketua DPRD Kota Bima setelah mendengar hasil RDP dari Komisi III terkait persoalan lahan warga di Santi dan Monggonao yang terdampak pekerjaan Proyek Drainase Primer.

"Akibat kesalahpahaman antara Pelaksana Proyek Drainase dan beberapa warga di Santi dan Monggonao. Sekitar 4 bulan progres pekerjaan jadi terlambat," ujar Syamsurih, Selasa, 20 Januari 2026.

Ia mengungkapkan, mendengar kendala yang cukup lama dan menghambat Program Bank Dunia di Kota Bima. Ia mengajak anggota Komisi III bersama dengan warga untuk melihat kondisi yang terjadi di Santi dan Monggonao.

"Selepas hujan siang tadi, Kami dan Anggota Komisi III. Ada H. Erwin dan Ibu Adelia dan Pak Amir. Kami berama warga ke lokasi lahan yang dikeluhan warga akibat proyek drainase di kawasan sungai yang ada di Santi dan Monggonao;" ujar Politisi Partai Amanat Nasional (PAN) ini.

Ia mengungkapkan, dalam perjalanan ke lokasi, pihaknya berkordinasi dengan beberapa pejabat Pemkot terkait. Seperti Kepala Dinas Perkim, Lurah dan Sekretaris Lurah yang ads di Kelurahan Monggonao dan Santi. Ada juga Sekwan dan pihak BWS (PPK Proyek Drainase, red) yang saat itu didampingi oleh Pejabat di Bina Pembangunan Daerah Kementrian Dalam Negeri.

"Setelah semua pihak Pemerintah hadir mulai dari pejabat Kelurahan Santi dan Monggonao serta dari Dinas Perkim Kota Bima. Bersama PPK dan BWS serta dari Kemendagri. Pertemuan bersama warga digelar di lahan yang dipersoalankan warga sebelumnya," ungkapnya.

Suri, sapaan akrabnya, menjelaskan kepada warga mulai dari tragedi banjir di 'Tahun 2016 lalu yang merugikan daerah Kota Bima hingga Rp1,7 Triliun. Di hadapan warga, ia mengungkapkan, dari nilai kerugian yang dialami. Tidak akan mungkin mampu diselesaikan pemulihan daerah akibat bencana dari APBD Pemerintah Kota Bima.

"Kehadiran Program NUFReP dalam kegiatan pengendalian banjir di Kota Bima akan berlangsung sampai Tahun 2028 dengan total bantuan yang akan diberikan dalam kegiatan pengendalian banjir senilai lebih dari Rp900 Miliar," tandasnya.

Dia melanjutkan, kehadiran Bantuan Bank Dunia dalam kegiatan Proyek Drainase Primer merupakan hasil perjuangan yang panjang dalam penantian yang dibutuhkan Kota Bima menuju Kota Tangguh Bencana agar tragedi seperti banjir bandang Tahun 2016 tidak kembali terulang.

"Setelah kami berikan penjelasan dan pengertian kepada masyarakat yang menperaoalkan masalah lahan akibat proyek drainase yang lebarnya 6 meter," kata dia.

"Alhamdulillah, warga akhirnya mengerti. Bahwa mensukseskan Program Bank Dunia. Bukan hanya tangggung jawab Pemerintah Daerah. Tapi dukungan dan keikhlasan warga yang merelakan aset untuk kesuksesan Program NUFReP yang sedang berjalan di Kota kita tercinta," sambung Suri yang diikuti aplaus dari warga.

Dia mengakhiri, setelah pertemuan dan warga telah mencapai kata sepakat. Dan solusi soal lahan tidak akan dipersoalkan dalam Proyek Drainase di Santi dan Monggonao.

"Dan kami merasa bangga kepada masyarakat Santi dan Monggonao yang mau mengerti dan mengorbankan lahannya untuk kepentingan Kota Bima ke depan," tutup Ketua DPRD Kota Bima. (RED)

Related

Politik dan Hukum 2229300862336553165

Posting Komentar

Silahkan berkomentar secara bijak dan sesuai dengan pembahasan tulisan.

emo-but-icon

IKLAN STIE BIMA

 


FANSPAGE METROMINI

METROMINI VIDEO



Arsip Blog

Ikuti Tweet Metromini

item