Siswi SD di Donggo Diduga Jadi Korban Kekerasan, Dipaksa Makan Cabai dan Alami Trauma
#BIMA - Seorang siswi kelas IV Sekolah Dasar berinisial S (11), warga Desa O’o, Kecamatan Donggo, Kabupaten Bima, diduga menjadi korban kekerasan oleh oknum Pelaksana Tugas (Plt) Kepala SDN Kala. Akibat kejadian tersebut, korban harus menjalani perawatan medis dan dilaporkan mengalami trauma berat.
Peristiwa itu disebut terjadi pada Selasa, 28 April 2026, saat jam istirahat di lingkungan sekolah. Berdasarkan informasi yang dihimpun, korban bersama tiga temannya diduga mendapat hukuman dari oknum kepala sekolah berupa dipaksa memakan cabai dalam jumlah banyak serta mengalami pemukulan di bagian wajah.
Kerabat korban, Rudy, mengungkapkan bahwa tindakan tersebut bukan pertama kali terjadi. Namun, insiden terakhir disebut paling parah hingga membuat korban harus dirawat.
“Korban dipaksa makan cabai dan dipukul. Setelah itu kondisinya menurun hingga harus dirawat,” ujar Rudy, Sabtu (2/5/2026) dikutip dari berita11.com.
Sebelum kejadian, korban dan teman-temannya diketahui tengah bermain tebak kata. Salah satu dari mereka diduga tanpa sengaja mengucapkan kata yang dianggap tidak pantas dan terdengar oleh siswa lain, lalu dilaporkan kepada pihak sekolah.
Menindaklanjuti laporan tersebut, oknum Plt kepala sekolah diduga langsung memberikan hukuman fisik kepada keempat siswa.
Sepulang sekolah, kejadian itu dilaporkan kepada orang tua korban, Harisa dan Ruslan. Pihak keluarga yang tidak menerima perlakuan tersebut sempat mendatangi sekolah, namun oknum kepala sekolah tidak berada di tempat.
Sehari setelah kejadian, kondisi korban memburuk dan dibawa ke Puskesmas Donggo untuk mendapatkan perawatan. Hingga kini, korban dilaporkan masih mengalami trauma berat.
Kasus ini memicu perhatian publik karena dinilai mencoreng dunia pendidikan. Keluarga korban berharap ada tindakan tegas terhadap oknum yang terlibat serta evaluasi terhadap pihak yang memberikan mandat jabatan tersebut.
Sementara itu, perwakilan Korwil Pendidikan Kecamatan Donggo, Rostinah, menyatakan bahwa kasus tersebut telah diselesaikan secara kekeluargaan.
“Alhamdulillah sudah aman, kepala sekolah, guru, tokoh masyarakat dan orang tua sudah saling memaafkan,” ujarnya.
Di sisi lain, Sakti Pekerja Sosial (Peksos) Dinas Sosial Kabupaten Bima, Rahman Hidayat, menyampaikan keprihatinannya atas kejadian tersebut.
Ia menegaskan bahwa sekolah seharusnya menjadi tempat yang aman dan mendidik tanpa kekerasan.
“Kami sangat prihatin dan menyesalkan kejadian ini. Sekolah tidak hanya berfungsi mencerdaskan secara kognitif, tetapi juga membentuk sikap dan perkembangan anak secara manusiawi tanpa kekerasan,” tegas Rahman.
Rahman juga memastikan pihaknya akan melakukan pendampingan terhadap korban, baik dalam proses hukum maupun pemulihan kondisi psikologis.
“Kami berkomitmen mendampingi korban, baik dalam proses hukum maupun pemulihan kondisi korban,” tambahnya.
Meski demikian, berdasarkan komunikasi awal dengan pihak keluarga, persoalan tersebut disebut telah diselesaikan secara kekeluargaan.
Rencananya, pertemuan lanjutan akan dilakukan di sekolah dengan melibatkan berbagai pihak.
Rahman menambahkan, kepala sekolah yang bersangkutan telah mendatangi korban saat dirawat dan menyampaikan permohonan maaf kepada keluarga serta mengakui kesalahannya.
Sementara itu, Oknum Plt kepala sekolah yang diduga melakukan kekerasan belum memberikan respons dan masih dikonfirmasi terkait masalah ini. (#RED/AI/Mawardy)
📷: Dok. Metromini Media/AI
#MetrominiMedia
#BeraniDanLugas
#BeritaBima
#Donggo
#KabupatenBima
#KekerasanAnak
#StopKekerasan
#PerlindunganAnak
#DuniaPendidikan
#SekolahAman
#KasusKekerasan
#TraumaAnak
#KeadilanUntukAnak
#PendidikanTanpaKekerasan




Silahkan berkomentar secara bijak dan sesuai dengan pembahasan tulisan.