Gerbang Pengabdian: Kisah Nyata Perjalanan Menjadi Pamong Praja (Bagian 1)
#KOTA BIMA — Sebuah kalender tua tergantung diam di sudut ruang tamu, tepat di belakang lemari yang dijadikan sekat. Kertasnya mulai menguning, dimakan usia, tetapi angka tahun “2007” masih terbaca jelas. Di atasnya tertera lambang Pemerintah Kota Bima, dan di bagian tengah terpampang sosok pria berseragam putih—tenang, tegap, dan penuh wibawa.
Namun yang paling membekas bukan wajahnya, melainkan satu kalimat sederhana di sisi kiri foto itu:
“Jangan biarkan matahari berlalu tanpa makna.”
Kalimat itu tidak pernah bersuara, tetapi diam-diam bekerja. Ia hadir setiap hari—saat berangkat sekolah, saat pulang, bahkan ketika sekadar duduk termenung di ruang tamu. Tanpa disadari, ia mengendap, membentuk cara pandang saya tentang waktu, tentang hidup, dan tentang arti menjadi seseorang.
Saat itu saya masih seorang siswa SMP. Usia yang penuh rasa ingin tahu, tetapi belum memiliki arah yang jelas.
Namun setiap kali menatap sosok walikota dalam seragam putih itu, muncul dorongan yang sulit dijelaskan. Bukan sekadar ingin memiliki jabatan, tetapi ingin menjadi pribadi yang berarti—tegas, berwibawa, dan berguna bagi banyak orang.
Dari cerita yang beredar, saya mulai mengenal satu nama: APDN. Sebuah lembaga pendidikan yang melahirkan para aparatur pemerintahan. Nama itu asing di telinga saya, tetapi justru di situlah letak daya tariknya. Tanpa saya sadari, sejak saat itu sebuah cita-cita mulai tumbuh—diam, tetapi pasti.
Waktu berjalan. Kalender itu tetap tergantung di tempatnya, menjadi saksi bisu perubahan dalam diri saya. Hingga suatu hari, kabar duka datang: walikota yang selama ini hanya saya kenal lewat foto itu meninggal dunia.
Saya tidak pernah mengenalnya secara langsung. Namun, ada rasa kehilangan yang tidak bisa dijelaskan. Seolah seseorang yang diam-diam menuntun arah hidup saya telah pergi. Tetapi satu hal tidak ikut hilang—kalimat di kalender itu tetap tinggal, bahkan terasa semakin bermakna.
Tahun 2010, saya lulus SMA. Dunia terbuka lebih luas, tetapi juga menghadirkan kebingungan yang nyata. Di tengah banyaknya pilihan, ingatan tentang kalender itu kembali muncul, seperti kompas yang menolak rusak.
APDN telah berganti nama menjadi IPDN. Lebih dikenal, tetapi juga tidak lepas dari bayang-bayang stigma—berita kekerasan yang kerap menghiasi layar televisi.
Kekhawatiran itu tidak hanya menjadi milik publik, tetapi juga keluarga saya.
Ketika saya menyampaikan niat untuk mendaftar, suasana rumah berubah.
“Yakin?” tanya mereka.
Pertanyaan itu sederhana, tetapi berat. Saya sendiri pun menyimpan rasa takut. Namun, keinginan yang tumbuh sejak lama terasa lebih kuat daripada keraguan.
“Saya ingin mencoba.”
Meyakinkan orang tua bukan perkara mudah. Butuh waktu, penjelasan, dan keyakinan yang terus saya ulang. Hingga akhirnya, restu itu datang—bukan sekadar izin, tetapi amanah yang harus saya jaga.
Ironisnya, ketika restu sudah di tangan, waktu justru hampir habis. Satu minggu sebelum penutupan pendaftaran, saya belum mengurus satu pun berkas. Kepanikan mulai terasa nyata.
Di saat itulah seorang sahabat datang.
“Kita harus segera urus semuanya.”
Kami berjalan dengan tujuan yang sama. Dari satu kantor ke kantor lain, dari satu syarat ke syarat berikutnya. Lelah? Tentu. Bahkan sempat muncul keinginan untuk menyerah.
Namun setiap kali itu datang, kalimat lama itu kembali terngiang:
jangan biarkan matahari berlalu tanpa makna.
Ia menjadi pengingat bahwa setiap langkah kecil, seberapa pun melelahkan, tetap bagian dari perjalanan besar.
Di masa itu, pendaftaran sekolah kedinasan belum seperti sekarang yang serba daring dan terpusat. Semua masih manual, berjenjang, dan penuh ketidakpastian. Berkas harus melewati seleksi tingkat daerah, disaring dengan ketat oleh bagian kepegawaian.
Dan ketika pengumuman itu tiba, saya masih mengingat jelas rasanya. Dari sekian banyak pendaftar, hanya sekitar enam belas orang dari Kota Bima yang dinyatakan lolos tahap pemberkasan.
Nama saya ada di sana.
Perasaan itu sulit dijelaskan—campuran antara bangga, lega, dan tidak percaya. Untuk pertama kalinya, mimpi yang dulu hanya berawal dari sebuah kalender tua, mulai menunjukkan bentuk yang nyata.
Namun, saya segera sadar: ini baru gerbang. Bukan tujuan akhir.
Dan di depan, perjalanan yang sesungguhnya baru saja dimulai.....#Menunggu Bagian 2
#SUMBER: Tulisan pribadi Fazhurrrahman Fazhurrahman Fazhur, diadaptasi dari kisah nyata perjalanan menuju IPDN.
📷: Dok. Metromini Media | Mawardy/AI
#MetrominiMedia
#BeraniDanLugas
#GerbangPengabdian
#PamongPraja
#IPDN
#PerjalananHidup
#KisahNyata
#OpiniPublik
#AnakDaerah
#KotaBima
#NTB
#GenerasiMuda
#PengabdianNegara
#CeritaInspiratif
#BergerakTanpaHenti




Silahkan berkomentar secara bijak dan sesuai dengan pembahasan tulisan.