14,15% Anak Usia SMP di KSB Putus Sekolah, Tamparan Keras di Tengah Hardiknas 2026
#TALIWANG, 2 Mei 2026 — Di tengah kemeriahan peringatan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) 2026, Kabupaten Sumbawa Barat (KSB) justru dihadapkan pada kenyataan pahit. Data terbaru dari Badan Pusat Statistik (BPS) dalam publikasi Kabupaten Sumbawa Barat Dalam Angka 2026 mengungkap bahwa 14,15 persen anak usia SMP di KSB tidak bersekolah.
Angka tersebut menjadi potret buram dunia pendidikan di daerah yang selama ini dikenal memiliki kapasitas fiskal besar dari sektor pertambangan. Penurunan juga terlihat pada Angka Partisipasi Murni (APM) jenjang SMP/MTs yang turun dari 87,60 persen pada 2024 menjadi 85,85 persen pada 2025.
“Ini bukan sekadar angka, ini alarm darurat. Ada ribuan anak di KSB yang kehilangan hak dasar mereka untuk mendapatkan pendidikan,” tegas M. Nasir, penggiat pendidikan di KSB, dalam keterangannya kepada wartawan, Sabtu (2/5/2026) sebagaimana dilansir di kobarksb.com.
Ia menilai, perayaan Hardiknas tahun ini menjadi ironi besar. Di saat pemerintah mengusung tema “Menguatkan Partisipasi Semesta Mewujudkan Pendidikan Bermutu untuk Semua”, justru partisipasi sekolah mengalami penurunan signifikan.
“Bagaimana mungkin di daerah sekaya KSB, masih ada belasan persen anak-anak yang tercecer dari sekolah? Ini kegagalan moral sekaligus kegagalan kebijakan,” lanjut Nasir.
Tak hanya itu, krisis pendidikan di KSB juga diperparah oleh berkurangnya tenaga pendidik.
Data menunjukkan bahwa dalam satu tahun terakhir, sebanyak 168 guru SD dan SMP berkurang, tanpa pengganti yang memadai.
Praktisi pendidikan KSB, Syarifuddin, M.Pd., menilai kondisi ini sebagai kesalahan mendasar dalam arah pembangunan pendidikan.
“Apa gunanya menambah gedung sekolah jika gurunya justru berkurang? Ini logika pembangunan yang keliru. Anak-anak putus sekolah salah satunya karena kualitas pendampingan di kelas menurun,” ujar Syarifuddin, Sabtu (2/5/2026).
Ia juga menegaskan bahwa hilangnya ratusan guru dalam waktu singkat menunjukkan lemahnya manajemen pendidikan daerah.
“Jika 168 guru hilang dari sistem tanpa solusi, jangan berharap anak-anak akan bertahan di sekolah. Pemerintah harus segera mengaudit dan memperbaiki kondisi ini secara transparan,” tegasnya.
Kondisi ini memicu desakan publik agar pemerintah daerah tidak lagi terjebak pada seremonial semata. Hardiknas, menurut masyarakat, harus menjadi momentum evaluasi total, bukan sekadar ajang perayaan.
“Hardiknas bukan panggung seremoni. Ini harus jadi titik balik. Jemput bola anak-anak yang putus sekolah, selamatkan masa depan mereka,” ujar salah satu tokoh masyarakat di Taliwang.
Dengan angka 14,15 persen anak SMP tidak bersekolah, KSB kini berada di titik kritis.
Jika tidak segera ditangani, generasi masa depan daerah ini terancam menjadi korban kebijakan yang lebih mementingkan tampilan daripada substansi.
Media Metromini mencatat: ini bukan sekadar data, ini peringatan keras. (#RED/AI/Mawardy)
📷: Dok. Metromini Media/AI
#MetrominiMedia
#BeraniDanLugas
#Hardiknas2026
#KrisisPendidikan
#14PersenPutusSekolah
#DaruratPendidikan
#AnakPutusSekolah
#PendidikanKSB
#KSBDarurat
#SelamatkanGenerasi
#StopSeremonial
#PrioritaskanPendidikan
#AuditPendidikan
#SuaraRakyat
#DataBicara
#KSBMemanggil
#JanganTutupMata
#IniDarurat




Silahkan berkomentar secara bijak dan sesuai dengan pembahasan tulisan.