MAY DAY & HARDIKNAS DI BIMA: ALIANSI MAHASISWA DESAK PENDIDIKAN GRATIS, TOLAK REPRESI, DAN SOROT GALIAN C

 


#BIMA — Aksi peringatan Hari Buruh Internasional (May Day) dan Hari Pendidikan Nasional yang digelar pada 4 Mei 2026 di depan Kantor DPRD Kabupaten Bima menjadi momentum konsolidasi besar gerakan mahasiswa dan rakyat.

Aksi yang tergabung dalam Aliansi Mahasiswa dan Rakyat Bima yang terdiri dari SMI Bima, LMND Kota Bima, LMND Kabupaten Bima, BEM UNSWA, Anti Tenk, HIMLA, KMLB, FKM SALAM, PMPSR, dan BMI ini mengangkat berbagai persoalan krusial, mulai dari pendidikan, demokrasi, hingga lingkungan.

Dalam pernyataan sikapnya, massa aksi menegaskan pentingnya reformasi di sektor pendidikan yang berpihak pada rakyat. Mereka menuntut agar negara menghadirkan sistem pendidikan yang tidak hanya gratis, tetapi juga ilmiah dan demokratis.

“Kami menuntut negara untuk mewujudkan pendidikan gratis, ilmiah, demokratis, dan berperspektif kerakyatan. Pendidikan tidak boleh menjadi beban, tetapi harus menjadi hak yang dijamin negara,” tegas Dante, Humas Aliansi Mahasiswa dan Rakyat Bima dari PMPSR, dalam aksi pada 4 Mei 2026.

Selain itu, massa juga mengecam tindakan represif terhadap gerakan rakyat yang dinilai masih kerap terjadi dalam dinamika demokrasi.

“Kami mendesak pemerintah untuk menghentikan segala bentuk represivitas terhadap gerakan rakyat. Demokrasi tidak boleh dibungkam dengan tekanan atau kekerasan,” lanjut Anas, Humas Aliansi dari LMND Kota Bima, dalam aksi yang sama.

Tak hanya itu, massa aksi juga mendesak pemerintah daerah untuk segera menghadirkan regulasi turunan yang konkret dalam melindungi petani.

“Pemerintah daerah harus segera menerbitkan Perbup sebagai turunan dari Perda Perlindungan dan Pemberdayaan Petani, agar kebijakan tidak berhenti di atas kertas,” tegas mereka.

Dalam isu lingkungan, massa aksi menyoroti aktivitas galian C di Desa Sumi, Kecamatan Lambu, yang dinilai telah mengancam ekosistem dan ruang hidup masyarakat.

“Aktivitas galian C harus diawasi dan ditertibkan.

Jangan sampai kerusakan lingkungan menjadi warisan akibat kelalaian kebijakan,” ujar perwakilan massa.

Selain itu, isu perempuan, kesehatan ibu dan anak, serta kualitas pemenuhan gizi bagi anak dan balita juga menjadi sorotan penting dalam aksi tersebut.

Massa aksi menilai bahwa berbagai persoalan tersebut menunjukkan adanya krisis dalam tata kelola kebijakan dan demokrasi yang belum sepenuhnya berpihak kepada rakyat.

“Jika negara terus abai, maka yang diwariskan bukan kesejahteraan, melainkan krisis—baik krisis ekologi, sosial, maupun kemanusiaan,” tutup massa aksi dalam pernyataan bersama pada 4 Mei 2026 di Bima. (#RED/AI/Agus)


📷: Dok. Metromini Media/AI

#MayDay2026

#Hardiknas2026

#AliansiMahasiswaBima

#BimaBersuara

#MahasiswaBergerak

#SuaraRakyat

#PendidikanGratis

#TolakRepresi

#LawanRepresi

#DemokrasiUntukRakyat

#SelamatkanPetani

#PerbupPetani

#GalianC

#LambuBersuara

#SaveLingkungan

#KrisisEkologi

#IsuPerempuan

#KesehatanIbuAnak

#GiziAnak

#BeraniDanLugas

Related

Kabar Rakyat 7959100383319001933

Posting Komentar

Silahkan berkomentar secara bijak dan sesuai dengan pembahasan tulisan.

emo-but-icon

IKLAN STIE BIMA

 


FANSPAGE METROMINI

METROMINI VIDEO



Arsip Blog

Ikuti Tweet Metromini

item