“Patuh atau Cerdas: Pertanyaan yang Terus Mengusik” Oleh Firdatul Khazanah




#OPINI, 3 Mei 2026 - Kalimat ini terasa menampar, tetapi sekaligus menimbulkan kegelisahan: mengapa kata “patuh” lebih sering diminta daripada “cerdas”?

Apakah benar ada pihak yang lebih nyaman melihat rakyat diam, dibandingkan berpikir keras dan bertanya?

Pemikir revolusioner Indonesia, Tan Malaka, pernah melempar gagasan yang tidak selalu enak didengar—bahwa orang cerdas adalah orang yang sulit ditipu.

Pernyataan itu sederhana, namun mengandung implikasi besar.

Jika demikian, pertanyaannya menjadi semakin mengganggu: mengapa sistem sering kali tidak terasa mendorong orang untuk benar-benar paham?

Apakah karena mereka yang banyak tahu akan lebih berani bertanya?

Ataukah karena pertanyaan itu sendiri dianggap sebagai ancaman?

Di sisi lain, menjadi patuh memang jauh lebih mudah. Tidak perlu berdebat, tidak perlu melawan arus, cukup mengikuti. Semua terasa aman, tenang, dan tanpa risiko.

Namun, sampai kapan?

Jika semua hanya ikut, siapa yang memastikan bahwa arah yang kita tempuh tidak keliru?

Barangkali ini bukan soal benar atau salah sepenuhnya. Ini soal pilihan: memilih kenyamanan dalam kepatuhan, atau menerima kegelisahan dalam proses memahami.

Dan pada akhirnya, pertanyaan itu kembali kepada kita semua:

Lebih berbahaya mana—rakyat yang patuh, atau rakyat yang mulai banyak bertanya? (#RED/AI/ @)


📷: Dok. Metromini Media/AI

#MetrominiMedia

#BeraniLugas

#FirdatulKhazanah

#OpiniPublik

#BeraniBerpikir

#BudayaKritis

#SuaraRakyat

#PatuhAtauCerdas

#LiterasiBangsa

#BangkitBerpikir

#MelawanDiam

#DemokrasiSehat

#RuangDiskusi

#KesadaranPublik

#PemikiranKritis

#TanyaBukanDosa

#IndonesiaBerpikir

Related

Opini 3454409958837276144

Posting Komentar

Silahkan berkomentar secara bijak dan sesuai dengan pembahasan tulisan.

emo-but-icon

IKLAN STIE BIMA

 


FANSPAGE METROMINI

METROMINI VIDEO



Arsip Blog

Ikuti Tweet Metromini

item