Ruang Digital Tanpa Etika: Demokrasi Bising, Adab Kian Terkikis
![]() |
| Ruang Digital Tanpa Etika: Demokrasi Bising, Adab Kian Terkikis |
#MATARAM — Ruang digital Indonesia kian riuh. Namun di balik kebebasan yang terasa semakin luas, terselip ironi yang tak bisa diabaikan: demokrasi tumbuh, tetapi adab perlahan runtuh.
Hal ini disorot oleh Kadis Kominfotik NTB, Dr. H. Ahsanul Khalik, S.Sos., MH., yang menilai media sosial kini lebih sering menjadi arena saling serang daripada ruang bertukar gagasan.
Kolom komentar yang seharusnya menjadi tempat diskusi justru berubah menjadi panggung hujatan.
“Bukan lagi soal setuju atau tidak, tapi siapa yang paling keras menghina,” tegasnya, dikutip dari antaranews.com, Selasa, 24 Maret 2026.
Fenomena ini menunjukkan bahwa publik bukan kekurangan suara, melainkan kelebihan kebisingan. Kritik yang idealnya menjadi alat kontrol dalam demokrasi kini bergeser menjadi luapan emosi tanpa arah.
Bahasa tak lagi dipakai untuk menjelaskan, melainkan untuk melukai.
Di ruang digital, batas-batas etika seolah menghilang. Apa yang tak berani diucapkan secara langsung, kini dengan mudah dilontarkan dari balik layar.
Jari bergerak lebih cepat daripada akal sehat.
Lebih mengkhawatirkan lagi, fanatisme politik memperparah keadaan. Perbedaan tak lagi dipandang sebagai hal wajar, melainkan ancaman.
Logika sederhana pun terbentuk: yang berbeda harus salah, dan yang salah layak diserang.
Akibatnya, kritik kehilangan makna.
Ia tak lagi mencari kebenaran, tetapi sekadar memenangkan pertarungan. Diskursus mati, permusuhan tumbuh.
Jika kondisi ini terus dibiarkan, demokrasi berpotensi kehilangan fondasinya: kepercayaan publik.
Delegitimasi terhadap siapa pun yang berkuasa bisa menjadi kebiasaan, bukan lagi pengecualian.
Lebih jauh, generasi muda berisiko mewarisi pola berpolitik yang dangkal dan emosional—belajar bahwa debat adalah serangan, bukan pertukaran gagasan.
“Demokrasi bukan ruang pelampiasan, melainkan ruang tanggung jawab,” tegas Ahsanul.
Ia mengingatkan, kebebasan berpendapat tidak pernah memberi legitimasi untuk merendahkan.
Kritik tetap penting, bahkan harus kuat, tetapi harus punya arah—untuk memperbaiki, bukan memperkeruh.
Pada akhirnya, menjaga demokrasi bukan hanya soal sistem, tetapi soal perilaku. Dimulai dari hal sederhana: berpikir sebelum bereaksi, menahan diri sebelum menyerang, dan tetap menghormati meski berbeda.
Sebab demokrasi tidak runtuh seketika. Ia melemah perlahan—dari cara kita berbicara, bersikap, dan memperlakukan sesama di ruang publik.
Jika adab hilang, yang tersisa bukan lagi demokrasi yang sehat, melainkan kebisingan yang menggerogoti masa depannya sendiri. (#RED/AI/Agus)
📷 Dok. Metromini Media/AI
#MetrominiMedia #BeraniDanLugas #RuangDigital #EtikaDigital #DemokrasiBising #OpiniPublik #SuaraNetizen #IndonesiaBicara #FaktaSosial




Silahkan berkomentar secara bijak dan sesuai dengan pembahasan tulisan.