Dari Tangis di Posyandu: Awal Terungkapnya Kisah Tiga Anak di Wera Tanpa Orang Tua
#BIMA — Kisah pilu tiga anak di Dusun Radu, Desa Bala, Kecamatan Wera, Kabupaten Bima, bermula dari sesuatu yang sederhana namun mengguncang: tangisan seorang balita di posyandu.
Bukan laporan resmi. Bukan data pemerintah. Tapi suara kecil yang memanggil “baba”—yang berarti kakak.
Informasi ini awalnya dari pengakuan Petugas Sosial di Wera, Jokomalis Tksk. Lantas, Media Metromini mencoba untuk mewawancara Dokter Vetty, berikut kisahnya:
Dokter yang bertugas di wilayah tersebut, dr. Vetty, menjadi saksi awal.
“Saya pergi posyandu di Dusun Radu, Desa Bala, Kecamatan Wera,” ujar dr. Vetty melalui pesan singkat, Selasa (28/4/2026).
Vetty mengaku, meski sibuk dengan tugas di puskesmas dan studi magister, ia tetap menyempatkan diri turun ke dusun terpencil.
“Biasanya saya tetap usahakan ikut posyandu, karena mereka jarang ketemu dokter,” katanya.
Di tengah pemeriksaan pasien, seorang anak usia sekitar dua hingga tiga tahun datang sambil menangis.
“Ada anak usia sekitar 2 atau 3 tahun yang tidak berhenti menangis, sambil berdiri untuk diukur tinggi badan dan timbang berat badan,” tuturnya.
Namun ada yang membuatnya tertegun—anak itu tidak memanggil “ina” (ibu), melainkan “baba” (kakak).
“Dia memanggil ‘baba, baba’, sambil melambai ke abangnya yang sekitar 9 tahun,” ungkapnya.
Sang kakak berusaha menenangkan adiknya yang ketakutan melihat tenaga kesehatan.
“Saya dengar betul kakaknya menenangkan dia yang takut disuntik,” jelasnya.
Dengan bahasa sederhana, sang kakak berkata:
“Kidi midi batu po nggahi ibu, loakai mu raka dolu, di ngaha ndai dua.”
Kalimat itu jika diterjemahkan berarti: “Berdiri diam, ikuti kata ibu, biar dapat telur untuk makan berdua.”
Momen itu menancap kuat.
“Saya kepikiran, biasanya anak panggil ‘ina’ (ibu), bukan ‘baba’ (kakak)," katanya.
Tak lama, mereka pergi. Tapi rasa penasaran tidak ikut pergi.
#Jejak Tangis di Posyandu (Bagian II): Dari Kader ke Gubuk Reyot
Rasa penasaran itu membawa dr. Vetty menggali lebih jauh.
“Saya tanya ke ibu kader setempat,” ujarnya
Jawaban yang ia terima membuka kenyataan pahit:
“Ina na waur lao, ama na nika wali. Nenek na mpa nggee labona waur lao pina salaho.”
Artinya: ibu mereka pergi, ayah menikah lagi, dan kini mereka tinggal bersama nenek dalam kondisi terbatas.
Yang paling mengguncang:
“Farizi ede (itu) yang urus adiknya dua orang.”
Seorang kakak menjadi “baba” bagi adik-adiknya.
Tanpa ragu, dr. Vetty mengikuti mereka.
“Saya jalan ikuti ke rumahnya, sekitar 100 meter,” katanya.
Ia datang bukan sebagai pejabat—hanya sebagai manusia.
“Saya hanya bawa roti-roti kue dari kios dekat posyandu,” tuturnya.
#Jejak Tangis di Posyandu (Bagian III): Di Bawah Pohon Jambu
Di depan rumah itu, kenyataan berbicara tanpa perlu penjelasan panjang.
“Saya dapati kakaknya sedang naik pohon jambu,” ungkap dr. Vetty.
Dua adiknya berada di bawah dalam kondisi memprihatinkan.
“Adiknya tidak pakai celana, tidak pakai sandal,” katanya.
Sementara sang kakak hanya mengenakan pakaian seadanya.
“Dia hanya pakai baju longgar dengan celana,” lanjutnya.
Tak ada kemewahan. Tak ada perlindungan.
Yang ada hanya bertahan.
Seorang kakak kecil memanjat pohon untuk makan.
Dua adiknya berjalan tanpa alas kaki.
#Penutup
Kisah ini menegaskan satu hal:
Kemiskinan ekstrem bukan sekadar angka.
Ia adalah wajah-wajah kecil yang dipaksa dewasa sebelum waktunya.
Dan pertanyaan yang tak bisa dihindari:
Apakah negara hadir sebelum mereka ditemukan—atau setelah semuanya viral? (#RED/AI/Mawardy)
#BACA JUGA:
Pemprov NTB Klaim Turun Tangan, Intervensi Berlapis Disiapkan untuk Tiga Anak di Bima
#LINK:
https://www.facebook.com/share/p/18FYg3sNGk/
📷: Dok. Metromini Media/AI
#MetrominiMedia #BeraniDanLugas
#Bima #Wera #NTB #PulauSumbawa
#KisahNyata #RealitaSosial #FaktaLapangan
#KemiskinanEkstrem #AnakIndonesia #PerlindunganAnak
#Bansos #PKH #Dinsos #IntervensiPemerintah
#SuaraRakyat #JurnalismeLugas #KontrolSosial
#PerhatianPemerintah #JanganTutupMata #AksiNyata
#ViralBima #BimaHariIni #SuaraDariDaerah




Silahkan berkomentar secara bijak dan sesuai dengan pembahasan tulisan.