Peletakan Batu Pertama di Lokasi Kedua Proyek Kolam Retensi Amahami, Satu Paket dengan Taman Ria Rp62 Miliar


 


KOTA BIMA | Rabu, 5 Agustus 2026 - Peletakan batu pertama oleh Wali Kota Bima di kawasan Amahami, kemarin, perlu ditempatkan dalam konteks yang utuh agar publik tidak salah memahami bahwa kegiatan tersebut merupakan dimulainya sebuah proyek baru yang berbeda dari pekerjaan kolam retensi di kawasan Taman Ria.

Faktanya, pekerjaan kolam retensi di Amahami dan Taman Ria merupakan dua lokasi pekerjaan yang berada dalam satu paket kontrak yang sama, dengan nilai proyek sekitar Rp62 miliar.

Sebelum pekerjaan di Amahami dimulai, pelaksanaan proyek dalam paket yang sama tersebut telah lebih dahulu berjalan di kawasan Taman Ria.

Karena itu, peletakan batu pertama di Amahami sejatinya merupakan momentum dimulainya pekerjaan pada lokasi kedua dari paket proyek kolam retensi tersebut, bukan peluncuran proyek yang berdiri sendiri dan terpisah dari Taman Ria.

Mengapa Baru Peletakan Batu Pertama di Amahami?

Momentum seremoni peletakan batu pertama oleh Wali Kota Bima kemarin pun memunculkan pertanyaan.

Sebab, jika peletakan batu pertama dimaksudkan sebagai penanda dimulainya pelaksanaan paket pekerjaan, momentum tersebut semestinya dapat dilakukan ketika pekerjaan pertama kali dimulai di kawasan Taman Ria.

Apalagi, pada awal pekerjaan di Taman Ria sebelumnya telah dilaksanakan kegiatan doa bersama yang disertai prosesi penyembelihan ternak sebagai bagian dari dimulainya pekerjaan.

Dengan demikian, publik perlu memperoleh penjelasan yang terang agar tidak muncul persepsi bahwa proyek kolam retensi Amahami merupakan proyek berbeda dari proyek Taman Ria.

Sekali lagi: Amahami dan Taman Ria adalah dua lokasi pekerjaan dalam satu paket kontrak yang sama dengan nilai sekitar Rp62 miliar.

Puluhan Pohon Taman Ria Telah Hilang, Penjelasan PPK Masih Ditunggu

Sementara perhatian publik kini juga tertuju pada dampak pekerjaan yang telah berlangsung lebih dahulu di kawasan Taman Ria.

Puluhan pohon yang sebelumnya tumbuh di kawasan tersebut telah ditebang untuk kepentingan pekerjaan. Kondisi kawasan dan habitat ekologis yang sebelumnya terbentuk di Taman Ria pun mengalami perubahan besar.

Persoalannya, publik hingga kini masih menunggu penjelasan terbuka dari Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) mengenai dasar teknis dan lingkungan atas penanganan vegetasi tersebut, termasuk rencana pemulihan atau penataan kembali kawasan setelah proyek selesai.

PPK sebelumnya disebut siap memberikan penjelasan terkait persoalan tersebut. Namun, penjelasan yang dijanjikan itu belum juga diterima secara terbuka.

Kondisi tersebut tentu dapat menggerus kepercayaan publik. Terlebih apabila pejabat proyek telah menyatakan kesediaannya memberikan klarifikasi, tetapi kemudian tidak merealisasikannya sesuai waktu yang dijanjikan.

Metromini Media tetap membuka ruang hak jawab dan klarifikasi kepada PPK maupun pihak terkait untuk menjelaskan secara utuh pelaksanaan pekerjaan di Taman Ria dan Amahami, termasuk persoalan penebangan pohon serta rencana pemulihan kawasan. (RED)

Metromini Media — Berani dan Lugas

Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url