Taman Literasi Gaspol Green Movement di Rabangodu Utara: Dari Komposter hingga Kebun Kolektif
#KOTA BIMA — Taman Literasi tak sekadar bicara, tapi bergerak. Lewat program Green Movement, komunitas ini turun langsung ke RW 003 Rabangodu Utara, mendorong warga menghadapi krisis sampah dengan langkah konkret: edukasi, produksi komposter, hingga persiapan kebun kolektif.
Aksi ini tidak lahir dari ruang diskusi semata. Tim Taman Literasi lebih dulu “turun gunung” meninjau kondisi Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Oi Mbo.
Realitas di lapangan—tumpukan sampah yang kian tak terkendali—menjadi alarm keras sekaligus titik tolak lahirnya program Ecowoman Class & Eco-Garden Initiative 2026.
Pendekatannya pun tak elitis. Dengan metode door to door, tim bersama remaja setempat menyasar langsung rumah-rumah warga. Fokus utama: ibu rumah tangga sebagai aktor kunci perubahan.
Edukasi diberikan secara praktis, membumi, dan langsung bisa diterapkan.
Kegiatan diawali dengan penguatan kapasitas perempuan yang menghadirkan Yulianingsih, S.Sos., MM dari DP3A. Tidak berhenti pada teori, warga langsung diajak praktik mengolah sampah organik menjadi kompos bersama Puji Laila, dosen kimia UNSWA.
Menariknya, kegiatan ini berlangsung usai senam pagi warga—momen yang dimanfaatkan efektif untuk membangun kesadaran kolektif.
Masuk tahap berikutnya, gerakan ini mulai menunjukkan “taring”. Sejumlah komposter telah diproduksi sebagai langkah awal pengelolaan sampah berkelanjutan di tingkat rumah tangga.
Tidak berhenti di situ, Taman Literasi juga tengah menyiapkan kebun kolektif warga—ruang produktif yang akan memanfaatkan kompos hasil olahan sendiri.
Ketua Taman Literasi, Muh. Al-Husaini, menegaskan bahwa gerakan ini bukan sekadar proyek sesaat.
“Kami ingin memutus pola lama. Sampah bukan untuk dibuang, tapi dikelola. Perubahan itu harus dimulai dari rumah, dan harus dilakukan bersama,” tegas lelaki Magister Hukum yang akrab disapa Rimba, Senin, 20 April 2026.
Dukungan juga datang dari akun lokal Lamberima yang dikenal vokal mengangkat isu-isu Bima. Kehadiran mereka memperkuat gaung gerakan ini di ruang digital, memperluas jangkauan kampanye hingga ke publik yang lebih luas.
Langkah Taman Literasi ini patut diapresiasi, namun juga menjadi tamparan halus bagi pihak-pihak yang selama ini abai. Di tengah krisis sampah yang kian nyata, solusi justru lahir dari gerakan komunitas—bukan dari kebijakan yang lamban di meja birokrasi.
Jika gerakan ini konsisten, Rabangodu Utara bukan hanya bersih dari sampah, tapi bisa menjadi model perlawanan terhadap krisis lingkungan di Kota Bima.
#Metromini Media mencatat: perubahan tidak butuh menunggu—cukup dimulai. (#RED/AI/Mawardy)
#MetrominiMedia #BeraniDanLugas #GreenMovement #TamanLiterasi #BimaBersih #KelolaSampah #DariRumahUntukLingkungan


