Suap Rp1,96 Triliun, Eks Anggota Parlemen China Jiang Chaoliang Divonis Mati dengan Penangguhan

NANJING|Kamis, 3 September 2026 — Pengadilan Rakyat Menengah Nanjing, Provinsi Jiangsu, China, menjatuhkan hukuman mati dengan masa penangguhan dua tahun kepada mantan anggota Komite Tetap Kongres Rakyat Nasional (NPC) China, Jiang Chaoliang, dalam perkara suap senilai lebih dari 746 juta yuan atau sekitar Rp1,96 triliun.

Putusan tersebut dibacakan pada Jumat, 28 Agustus 2026. Jiang dinyatakan bersalah menerima suap dalam jumlah sangat besar selama memanfaatkan sejumlah jabatan strategis yang pernah diembannya. 

Menurut putusan pengadilan, dalam rentang 1995 hingga 2025, Jiang menggunakan pengaruh dan jabatannya untuk memberikan bantuan kepada sejumlah pihak dalam urusan operasional bisnis, kontrak proyek, pembiayaan dan persetujuan pinjaman, hingga promosi jabatan.

Jiang sebelumnya pernah menduduki sejumlah posisi penting di sektor keuangan dan pemerintahan, termasuk sebagai pimpinan Agricultural Bank of China, China Development Bank, Bank of Communications, Gubernur Provinsi Jilin, serta Sekretaris Partai Komunis China Provinsi Hubei. Ia juga pernah menjadi anggota Komite Tetap NPC ke-14 dan Wakil Ketua Komite Pertanian dan Urusan Pedesaan NPC. 

Aset Disita, Hak Politik Dicabut

Selain hukuman mati dengan penangguhan, pengadilan menjatuhkan pencabutan hak politik seumur hidup terhadap Jiang.

Seluruh harta pribadi Jiang juga diperintahkan untuk disita. Keuntungan ilegal dan hasil yang diperoleh dari tindak pidana tersebut akan diserahkan kepada kas negara, sementara kekurangan yang masih ada akan ditagihkan kembali sesuai putusan pengadilan. 

Dua Tahun Penangguhan, Berujung Penjara Seumur Hidup

Dalam sistem hukum China, hukuman mati dengan penangguhan dapat diubah menjadi pidana penjara seumur hidup apabila terpidana tidak melakukan tindak pidana baru yang disengaja selama masa penangguhan dua tahun.

Namun, dalam kasus Jiang, pengadilan secara tegas menetapkan bahwa setelah hukuman diubah menjadi penjara seumur hidup, ia tidak berhak memperoleh pengurangan masa hukuman maupun pembebasan bersyarat. Artinya, Jiang dipastikan menjalani sisa hidupnya di balik jeruji. 

Mengaku dan Kembalikan Hasil Kejahatan

Pengadilan menyebut jumlah suap dan dampak perbuatannya sangat serius sehingga secara prinsip perbuatannya layak dijatuhi hukuman mati.

Namun, hukuman tidak langsung dieksekusi karena Jiang mengakui perbuatannya, mengungkap sejumlah fakta yang sebelumnya belum diketahui penyidik, memberikan informasi terkait perkara lain, menyatakan penyesalan, serta secara aktif mengembalikan hasil kejahatan. 

Jiang mulai diperiksa dalam penyelidikan pada Februari 2025 dan kemudian dikeluarkan dari Partai Komunis China serta dicopot dari jabatan publik pada Oktober tahun yang sama. Ia didakwa pada Maret 2026 dan mengakui kesalahannya dalam persidangan pada 28 Mei 2026. 

SUMBER: Xinhua, China Daily, Reuters | Rabu, 28 Agustus 2026

Redaksi Metromini Media 

"Berani & Lugas"

Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url