Heboh Oarfish Ditemukan di Pesisir Lombok Timur, Kadis Kelautan NTB Tegaskan Bukan Pertanda Gempa
MATARAM | Rabu, 26 Agustus 2026 — Penemuan ikan sabuk atau oarfish di pesisir Pantai Pink, Kecamatan Jerowaru, Lombok Timur, menghebohkan masyarakat dan media sosial. Kemunculan ikan laut dalam yang tergolong langka ini sempat dikaitkan dengan mitos sebagai pertanda akan terjadinya gempa bumi atau bencana.
Namun, Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan (Dislutkan) NTB, Muslim, menegaskan bahwa anggapan kemunculan oarfish sebagai tanda bencana merupakan mitos yang belum memiliki dasar ilmiah.
Menurutnya, oarfish biasanya hidup di laut dalam dan kemunculannya ke perairan dangkal dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor, termasuk perubahan kondisi dan temperatur air laut.
“Itu memang betul bahwa itu sebagai salah satu mitos bahwa akan ada potensi bencana gempa atau apa. Atau sebaliknya dia ini efek gempa,” ujarnya, Selasa, 25 Agustus 2026.
Muslim menjelaskan, belum ada kajian ilmiah yang benar-benar membuktikan bahwa kemunculan ikan berukuran panjang tersebut dapat menyebabkan atau menjadi penanda pasti akan terjadinya bencana seperti gempa bumi maupun gelombang tinggi.
“Belum bisa kita buktikan. Oleh karena itu teman-teman dari akademisi, peneliti, dan BRIDA bisa melaksanakan pendalaman lebih lanjut terkait oarfish ini,” katanya.
Ia menerangkan, oarfish merupakan ikan yang hidup di laut dalam, pada kedalaman mulai sekitar 200 meter hingga ratusan bahkan ribuan meter. Ikan ini diketahui dapat tumbuh dengan panjang mencapai sekitar 11 hingga 17 meter dan berat hingga 270 kilogram.
Adapun oarfish yang ditemukan di perairan Jerowaru, Lombok Timur, disebut memiliki ukuran sekitar empat meter.
Meski memiliki ukuran tubuh yang cukup besar dan bentuk yang tidak biasa, oarfish disebut tidak berbahaya bagi manusia. Ikan tersebut juga jarang dikonsumsi karena dagingnya dinilai kurang enak dan bertekstur lembek.
Salah satu penjelasan mengenai jarangnya oarfish ditemukan di perairan NTB adalah karena wilayah tersebut memiliki laut yang dalam dan berhadapan langsung dengan Samudera Hindia. Kondisi tersebut memungkinkan terjadinya migrasi berbagai biota laut.
“Apalagi ini kan spesial wilayah kita di selatan ini. Dia langsung berhadapan dengan Samudera India, laut dalam, laut lepas. Sehingga potensi terjadinya migrasi beberapa biota-biota,” pungkas Muslim.
Penemuan oarfish di Lombok Timur pun menjadi perhatian masyarakat. Meski demikian, masyarakat diimbau untuk tidak langsung mengaitkan kemunculan ikan tersebut dengan isu bencana tanpa dasar kajian ilmiah yang jelas.
SUMBER: Suara NTB
Redaksi Metromini Media
"Berani & Lugas"
