SERAPAN JAGUNG BULOG DIDUGA SARAT PERMAINAN, PETANI KECEWA BERAT
#KOTA BIMA — Program serapan jagung oleh Perum Bulog di wilayah Bima menuai sorotan tajam.
Sejumlah petani mengaku kecewa, lantaran proses penyerapan dinilai tidak transparan dan diduga sarat permainan.
Informasi yang dihimpun Metromini Media, Sabtu (11/4/2026), mengungkap adanya kejanggalan dalam proses distribusi jagung yang masuk ke gudang Bulog Bima yang ada di Kelurahan Jatiwangi dekat KLK.
Seorang sumber menyebut, ditemukan surat jalan pengangkutan jagung yang mencantumkan asal dari Dusun Kombo, Kecamatan Wawo.
Padahal, menurutnya, saat ini jagung di wilayah tersebut belum memasuki masa panen.
“Kalau kondisi sekarang, jagung Wawo belum panen. Panen itu nanti kalau cuaca sudah benar-benar membaik,” ungkap sumber tersebut.
Artinya, kata dia, dalam penyerapan jagung oleh gudang Bulog ada dugaan rekayasa asal sumber jagung yang dibawa ke gudang.
Tak hanya itu, jagung yang masuk ke gudang Bulog juga diduga bukan berasal dari petani, melainkan milik pedagang yang diduga memasok jagung menggunakan jalur tertentu.
Lebih jauh, sumber juga mengungkap bahwa dokumen surat jalan disebut-sebut diperoleh melalui oknum aparat di tingkat kelurahan/desa. Hal ini memunculkan pertanyaan besar terkait mekanisme dan pengawasan distribusi.
Di sisi lain, petani mengaku kesulitan menjual hasil panen mereka ke Bulog. Selain akses yang terbatas, proses pembayaran juga disebut memakan waktu lama.
“Petani masih banyak yang punya jagung, tapi tidak bisa masuk ke Bulog. Kalaupun masuk, pembayaran harus menunggu berminggu-minggu. Dan harga serapan Bulog saat ini satu kilonya Rp6.500. Setelah dipotong administrasi, jadi Rp6.300 per kilogramnya,” sebutnya.
Proses penimbangan pun dinilai tidak adil dalam menyerap keberadaan jagung petani. Sehingga menimbulkan rasa kecemburuan dan kecurigaan adanya praktik yang merugikan karena hanya mengakomodir jagung relasi Bulog yang diduga milik pedagang.
Kondisi ini membuat petani merasa diperlakukan tidak adil di tengah harapan besar terhadap program pemerintah untuk menyerap hasil panen mereka.
Masyarakat pun meminta adanya pengawasan ketat serta evaluasi menyeluruh terhadap kinerja Bulog di lapangan.
“Kami hanya ingin keadilan. Jagung petani harusnya diprioritaskan, bukan malah didahului oleh pemain besar,” tegas petani di Kelurahan Rontu, Kota Bima.
Hingga berita ini diturunkan, pihak Bulog maupun aparat terkait belum memberikan keterangan resmi. (#RED/AI/Mawardy)
📷: Dok. Metromini Media/AI
#MetrominiMedia
#BeraniDanLugas
#JagungBima
#BulogDisorot
#PetaniKecewa
#DugaanPermainan
#BimaBersuar
#KeadilanUntukPetani
#SuaraPetani
#SkandalJagung
#BulogBima
#TransparansiBulog
#StopPermainan
#PetaniButuhKeadilan
#BimaHariIni




Silahkan berkomentar secara bijak dan sesuai dengan pembahasan tulisan.