DUA SUARA DARI LAPANGAN: ANTARA JANJI SERAPAN BULOG DAN REALITAS PETANI
#KOTA BIMA, NTB — Kebijakan Perum Bulog Cabang Bima yang membuka dua skema pembelian jagung menuai beragam respons. Di satu sisi, Bulog menyatakan tidak ada alasan jagung menumpuk. Di sisi lain, suara dari lapangan justru memunculkan keraguan.
Dua warga, Boy KC dan Ipul, menyampaikan pandangan berbeda yang sama-sama mengarah pada satu titik: implementasi.
Boy KC berharap kebijakan Bulog benar-benar dijalankan sesuai amanah jabatan.
Menurutnya, persoalan utama bukan sekadar serapan, tetapi harga yang tidak sesuai dengan instruksi Presiden.
“Petani masih kesulitan menjual hasil panen mendekati harga yang ditetapkan,” ujarnya, Kamis (23/4/2026).
Narasi Boy sejalan dengan bagian akhir kebijakan Bulog sebelumnya — bahwa harga (HPP) masih menjadi titik krusial yang belum sepenuhnya berpihak ke petani.
Sementara warga lainnya, Ipul melontarkan kritik lebih tajam.
Ia menilai pernyataan Bulog hanya terdengar baik di media, namun tidak mencerminkan kondisi di lapangan.
“Yang punya akses yang diakomodir. Petani kecil tetap kesulitan,” tegasnya.
Ipul juga mempertanyakan transparansi dan batasan serapan:
Apakah ada kuota?
Siapa yang diprioritaskan?
Sampai kapan Bulog menyerap hasil panen?
"Harus jelas pengawasan dan soal pemerataan akses dalam hal penyaluran jagung petani ke gudang bulog. Akses saat ini belum merata dan transparansi juga lemah," jelasnya.
#Catatan Kritis:
Jika benar serapan dibuka luas, maka, data serapan harus transparan. Distribusi pembelian harus merata. Tidak boleh ada “petani prioritas” berdasarkan akses.
"Jika tidak, maka satu hal yang pasti. Narasi serapan hanya akan kuat di media, tapi lemah di lapangan," tutupnya. (#RED/AI/ Mawardy)
📷: Dok. Metromini Media/AI
#MetrominiMedia #BeraniDanLugas #BulogBima #SerapanJagung #PetaniJagung #HargaPetani #KritikPublik #Transparansi #KebijakanPublik #BimaNTB




Silahkan berkomentar secara bijak dan sesuai dengan pembahasan tulisan.