BIMA, BAHASA & RUANG
#OPINI - Jalan mulai yang lain sebagai dasar memahami konflik di Bima
Tabik, SantaBe…
Belasan tahun lalu, saat N. Marewo sering mampir ke pondok saya di Mataram, saya pernah bertanya tentang karakter anak muda Bima. Ia menjawab dengan sebuah cerita sederhana:
Sekelompok anak muda duduk bersama.
Satu bercerita tentang pamannya yang kini menjadi anggota Paspampres.
Yang lain tak mau kalah, menyebut kerabatnya yang pulang dari Papua dengan luka-luka perang.
Yang ketiga menutup dengan mengatakan: “Paling hebat Rambo di film tadi malam—dor dor dor, boom!”
Akhirnya, obrolan itu ditutup dengan taruhan air ludah (katufe): siapa yang paling jauh.
Cerita ini menggambarkan satu hal
penting:
mental kompetisi yang kuat—keinginan untuk diakui—namun kehebatan selalu diproyeksikan pada orang lain, bukan diri sendiri.
Saya memahami itu.
Dalam beberapa perjalanan di Bima, saya pernah diberi nasihat:
“Kalau ingin bertahan di Bima, jangan terlihat terlalu pintar. Nanti bisa ‘dihabisi’ ramai-ramai.”
Nasihat ini bukan tanpa konteks.
Konflik: dari Hal Sepele ke Kolektif
Saya lahir dan besar di sekitar Kota Bima.
Sejak kecil, saya menyaksikan bagaimana konflik antar kampung bisa muncul dari hal yang sangat sederhana.
Seorang remaja menggoda seorang siswi. Ia menangis, mengadu pada kakaknya.
Lalu… konflik melebar.
Darah tertumpah.
Dan tiba-tiba, “jagoan kampung” muncul sebagai komandan. Konflik berubah dari personal menjadi kolektif.
Ruang: Cara Orang Bima Melihat Dunia
Bima adalah wilayah berbukit dengan dataran alluvial yang menjadi pusat kota.
Teluk Bima masuk jauh ke daratan, melahirkan istilah ruang seperti:
Dei (luar)
Ari (dalam)
Ipa (seberang)
Awa (atas/timur)
Ese (bawah/barat)
Menariknya, orang Bima menggunakan arah mata angin dengan titik pusat pada dirinya sendiri.
“Da” (utara) berarti utara dari posisi si penutur.
Menurut Mahsun, ini menunjukkan bahwa:
Orang Bima memiliki orientasi hidup yang cenderung menguasai ruang.
Perbandingan: Lombok dan Orientasi Eksternal
Berbeda dengan Lombok.
Di sana, masyarakat tradisional hanya mengenal dua arah utama:
Lauq (ke laut)
Daye (ke gunung)
Dengan Gunung Rinjani sebagai pusat orientasi.
Artinya:
➡️ titik pusat berada di luar diri manusia
Berbeda dengan Bima:
➡️ titik pusat berada pada diri manusia itu sendiri
Bahasa: Identitas yang Menyatukan sekaligus Membelah
Menurut Herman Neubronner van der Tuuk Brandes (Brandes), Bima adalah wilayah transisi rumpun bahasa Austronesian linguistics antara Barat dan Timur.
Dalam kajian Genolinguistik:
Wilayah Barat (Jawa, Bali, Lombok, Sumbawa):
➝ menggunakan penanda kepemilikan pasif
(contoh: rumahnya si X)
Wilayah Timur (NTT):
➝ menggunakan bentuk aktif tanpa penanda
(contoh: saya rumah)
Bima berada di tengah—dan unik.
Orang Bima:
menggunakan bentuk pasif (seperti Barat),
tapi juga menciptakan kata: “Ntau” (punya/empunya)
Contoh:
Uma La Rangga
Uma Ntau La Rangga
Ini menunjukkan:
➡️ ada upaya menyerap pengaruh luar
➡️ tapi tetap menekankan manusia sebagai pusat kepemilikan
Implikasi Sosial: Solidaritas Berlapis
Dari pola ruang dan bahasa itu, muncul struktur sosial:
solidaritas kampung
solidaritas wilayah (Dei, Ese, Ipa), solidaritas kelompok identitas lain.
Solidaritas ini kuat—tetapi juga berlapis dan bisa terbelah ke dalam.
Inilah yang menjelaskan kenapa konflik mudah berubah menjadi konflik kolektif.
Penutup: Jalan Memahami Konflik Bima
Konflik di Bima tidak cukup dijelaskan oleh:
politik
ekonomi
kekuasaan
Tetapi juga oleh:
cara manusia melihat ruang.
cara bahasa membentuk identitas.
cara komunitas membangun solidaritas.
Memahami ini berarti membuka jalan baru dalam resolusi konflik.
Dan mungkin, dari sinilah kita bisa memahami filosofi:
Kalembo Ade — menahan diri, menjaga hati, merawat kemanusiaan.
Selamat bekerja.
Bismillah.
✍️ Disusun ulang dari tulisan Ervyn Kaffah
*Pengasuh Institut Garis Wallacea, kelahiran Guda-Tanjung
(#RED/AI/Mawardy)
📷: Dok. Metromini Media/AI
#BimaBahasaRuang
#BimaHariIni
#DouMbojo
#KalemboAde
#BimaNTB
#SosiologiLokal
#AntropologiIndonesia
#BahasaDanBudaya
#RuangSosial
#Genolinguistik
#KonflikSosial
#SolidaritasKomunitas
#KonflikKampung
#ResolusiKonflik
#DinamikaSosial
#IndonesiaTimur
#BudayaNusantara
#LocalWisdom
#SocialInsight
#IndonesiaBercerita
#MetrominiMedia
#BeraniDanLugas
#BimaPeerGroup
#InfoVisual




Silahkan berkomentar secara bijak dan sesuai dengan pembahasan tulisan.