Syukuran Dibukanya Kembali Museum Samparaja: Menyulam Ingatan, Meneguhkan Jati Diri Dana Mbojo

 


#KOTA BIMA - Sabtu sore, 18 April 2026, menjadi momen yang tak sekadar seremoni di sudut Kota Bima. Di Jalan Gajah Mada Nomor 2, Lingkungan Karara, Kelurahan Monggonao, Kecamatan Mpunda, sebuah ruang ingatan kolektif kembali bernapas: Museum Samparaja resmi dibuka kembali setelah melalui proses renovasi.

Di balik wajah baru bangunan itu, tersimpan kisah yang hampir saja menjadi luka. Dr. Dewi Ratna Muchlisa Mandyara, SE., M.Hum, pengelola Museum Samparaja, menuturkan bahwa sebelumnya bagian belakang museum mengalami kerusakan akibat tertimpa pohon mangga yang ditebang oleh pemilik kebun. 

Peristiwa tak terduga itu menjadi titik balik—bukan sekadar perbaikan fisik, tetapi juga momentum untuk melakukan peremajaan yang lebih menyeluruh.

“Alhamdulillah, di tengah kondisi yang membutuhkan biaya besar, hadir donasi dari Yayasan Bung Hatta (Proklamator) di Jakarta dan seorang Hamba Allah di luar daerah. Ini menjadi jalan bagi kami untuk membangun kembali museum ini dengan lebih baik,” ungkap Ahli Naskah atau Filolog itu.

Kini, museum itu berdiri kembali, bukan hanya sebagai bangunan, tetapi sebagai penjaga sunyi peradaban. Di dalamnya, tersimpan naskah-naskah kuno, rekaman nilai, serta jejak panjang sejarah Kesultanan Bima—atau yang lebih dikenal sebagai Dana Mbojo.

Acara syukuran berlangsung khidmat. Seorang Ustadz bernama Ridwan memimpin doa, memohon keberkahan bagi museum yang kembali dibuka, serta perlindungan agar warisan budaya ini tetap terjaga. 

Hadir pula generasi keturunan Sultan Muhammad Salahudin, para ahli naskah, akademisi, kolega, warga sekitar, hingga Babinsa yang turut mengamankan jalannya kegiatan.

Doa-doa dipanjatkan, tak hanya untuk keberlangsungan museum, tetapi juga untuk keluarga Kesultanan Bima: Sultan Muhammad Salahudin, Doktor Hj. Siti Mariam binti Sultan Muhammad Salahudin, dan Hj. Siti Jauhar binti Sultan Muhammad Salahudin. Mereka dikenang bukan sekadar sebagai tokoh sejarah, tetapi sebagai teladan hidup yang nilai-nilainya masih relevan hingga hari ini.

Lebih jauh, penghormatan juga ditujukan kepada para penulis naskah—mereka yang mungkin tak dikenal wajahnya, namun jejak pikirannya hidup dalam lembaran-lembaran yang kini tersimpan rapi. 

Dari tangan mereka, lahir ilmu yang terus mengalir, melintasi generasi, memberi arah bagi masa depan.

Pembukaan kembali Museum Samparaja bukan hanya tentang memulihkan bangunan, tetapi tentang menghidupkan kembali kesadaran. 

Bahwa sejarah bukan sekadar masa lalu, melainkan fondasi yang membentuk cara kita memahami diri sendiri.

Bagi masyarakat Kota Bima, momentum ini adalah undangan terbuka—untuk datang, melihat, membaca, dan merasakan kembali denyut kebudayaan Dana Mbojo.

Sebab, mengenal sejarah berarti mengenal jati diri. Dan dari sanalah, tumbuh rasa saling memiliki, saling menjaga, dan saling menyayangi sebagai sesama anak tanah yang sama.

Di tengah arus zaman yang kian cepat, Museum Samparaja berdiri sebagai pengingat: bahwa kita tidak boleh tercerabut dari akar. 

Karena hanya dengan memahami dari mana kita berasal, kita tahu ke mana harus melangkah.

Sore itu, di antara doa dan harapan, Museum Samparaja kembali hidup—dan bersama itu, hidup pula ingatan kolektif generasi Bima. (#RED/AI/Mawardy)


📷: Dok. Metromini Media/AI

#MetrominiMedia

#BeraniLugas

#MuseumSamparaja

#Bima

#DanaMbojo

#SejarahBima

#BudayaBima

#KesultananBima

#BimaBangkit

#PelestarianBudaya

#CagarBudaya

#MuseumIndonesia

#MetrominiMedia

#BeraniDanLugas

#BimaHariIni

#NTB

Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url