Mantan Wagub NTB Badrul Munir Soroti Buruknya Komunikasi Pejabat
MATARAM|Selasa, 1 September 2026 — Mantan Wakil Gubernur Nusa Tenggara Barat (NTB), Ir. H. Badrul Munir, M.M., menyoroti pentingnya komunikasi pejabat dalam membangun kepercayaan masyarakat.
Melalui tulisan opini berjudul “Ketika Pejabat Buruk dalam Komunikasi”, Badrul Munir menegaskan bahwa komunikasi bukan sekadar persoalan berbicara, tetapi menjadi jembatan antara pemerintah dan masyarakat.
Menurutnya, komunikasi pejabat memiliki dua sisi, yakni verbal dan nonverbal. Kata-kata yang terdengar baik dapat kehilangan makna apabila tidak sejalan dengan bahasa tubuh dan sikap yang ditunjukkan kepada masyarakat.
Badrul menilai terdapat pejabat yang berkomunikasi dengan sikap sombong, menggunakan nada memerintah dan menempatkan masyarakat seolah-olah sebagai bawahan. Sebaliknya, ada pula pejabat yang minder, gugup, menghindari kontak mata dan tidak berani menyampaikan sikap secara tegas.
“Dua-duanya sama berbahayanya. Sombong membuat rakyat menjauh. Minder membuat rakyat tak percaya,” tulis Badrul Munir.
Namun, ia memberikan perhatian khusus terhadap apa yang disebutnya sebagai “perilaku sunyi” pejabat. Menurutnya, sikap diam dan minim komunikasi tidak selalu menunjukkan kebijaksanaan.
Ia menggambarkan adanya pejabat yang memilih diam di ruang publik, tetapi justru aktif memainkan agenda di belakang layar. Dalam konteks pemerintahan, pola komunikasi tertutup tersebut dinilai dapat menghambat program yang semestinya memberikan manfaat bagi masyarakat.
“Gagal komunikasi, gagal program,” tegasnya.
Badrul juga mengingatkan bahwa komunikasi yang disembunyikan dan tidak terbuka dapat menggerus kepercayaan publik. Karena itu, pejabat dituntut mampu membangun komunikasi yang jujur, terbuka dan benar-benar mendengarkan aspirasi masyarakat.
Baginya, pejabat yang hebat bukan semata-mata mereka yang pandai berpidato, memiliki gelar tinggi atau memiliki pengalaman panjang dalam birokrasi.
Pejabat yang baik adalah mereka yang mampu membuat masyarakat merasa didengar, dimengerti, dilayani dan tidak dibohongi.
Tulisan tersebut ditutup dengan pesan bahwa kekuatan kepemimpinan tidak hanya terletak pada kemampuan berbicara, tetapi juga pada kemampuan membangun jejaring dan mendengar secara mendalam.
SUMBER: Ir. H. Badrul Munir, M.M., mantan Wakil Gubernur NTB
Judul opini: Ketika Pejabat Buruk dalam Komunikasi|Selasa, 1 September 2026
Redaksi Metromini Media
"Berani & Lugas"
