Kisah Ratmaji, Relawan Pengatur Lalu Lintas di Rembiga: Jalan Kaki 1 Kilometer Demi Ibu dan Keluarga

MATARAM|Senin, 7 September 2026— Di tengah padatnya arus kendaraan di jalur Rembiga–Gunungsari, Kota Mataram, sosok seorang relawan pengatur lalu lintas menjadi perhatian. Ia adalah Ratmaji, perantau asal Gubuk Kute Timuk, Dusun Montong Sari, Desa Sakra Pusat, Kecamatan Sakra, Kabupaten Lombok Timur.

Sejak merantau ke Kota Mataram pada 2021, Ratmaji memilih bertahan dengan pekerjaan sebagai relawan pengatur lalu lintas di sekitar perempatan Indomaret, Jalan Halmahera, Kelurahan Rembiga, Kecamatan Selaparang, Kota Mataram.

Pekerjaan tersebut dijalaninya dengan penuh kesabaran. Setiap hari ia membantu mengatur kendaraan di salah satu jalur yang dikenal cukup padat dan kerap mengalami kemacetan

Yang membuat kisah Ratmaji semakin menyentuh, ia mengaku tidak memiliki sepeda motor. Dari tempat kosnya di Desa Midang, Kecamatan Gunungsari, Kabupaten Lombok Barat, ia berjalan kaki menuju lokasi bekerja dengan jarak sekitar satu kilometer.

“Tiang kos di Desa Midang. Jalan kaki dari kos ke tempat kerja sekitar satu kilo. Dari dulu tidak ada motor,” tutur Ratmaji.

Bagi Ratmaji, merantau bukan sekadar mencari pekerjaan. Ia mengaku menjadi tulang punggung keluarga sejak sang ayah atau mamik meninggal dunia sekitar delapan tahun lalu.

Kondisi keluarga dan ekonomi membuatnya memilih meninggalkan kampung halaman demi mencari penghidupan sekaligus membantu memenuhi kebutuhan sang ibu tercinta.

“Tiang tulang punggung keluarga semenjak mamik tiang meninggal delapan tahun yang lalu. Keadaan ekonomi dan keadaan di rumah bikin tiang keluar merantau demi menafkahi ibu tercinta,” ungkapnya.

Ratmaji mengatakan dirinya tidak bermaksud membesar-besarkan pekerjaannya. Ia hanya berharap keberadaannya sebagai relawan pengatur lalu lintas dapat dihargai oleh masyarakat sekitar.

Menurutnya, jalur Rembiga–Gunungsari hampir setiap hari dipadati kendaraan. Dalam kondisi tersebut, ia berusaha membantu mengurai kepadatan dan memberikan ruang bagi kendaraan untuk melintas dengan lebih tertib.

Keberadaan Ratmaji menjadi gambaran bahwa pekerjaan apa pun yang dilakukan dengan niat mencari nafkah secara jujur memiliki nilai dan perjuangan tersendiri.

Di balik rompi yang dikenakannya dan senyum yang selalu ditunjukkan kepada pengguna jalan, tersimpan cerita seorang perantau yang rela berjalan kaki setiap hari demi menjalankan pekerjaan dan memenuhi tanggung jawab terhadap keluarganya.

“Saya hanya ingin pekerjaan ini dihargai,” menjadi pesan sederhana dari Ratmaji di tengah perjuangannya menghidupi keluarga.

Redaksi Metromini Media

"Berani & Lugas"

Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url