TANGGAPAN RSUD BIMA: ANTARA KLARIFIKASI DAN SUBSTANSI KELUHAN PASIEN
KOTA BIMA | Sabtu, 29 Agustus 2026 - RSUD Bima akhirnya memberikan klarifikasi atas pemberitaan mengenai keluhan pasien terkait waktu pelayanan dokter. Klarifikasi tersebut disampaikan langsung oleh Direktur RSUD Bima, drg. H. Ihsan, MPH.
RSUD Bima menyatakan menghargai setiap keluhan masyarakat dan menjadikan kritik pasien sebagai bahan evaluasi untuk meningkatkan kualitas pelayanan.
Namun, jika dicermati, klarifikasi tersebut belum secara spesifik menjawab pokok persoalan yang disampaikan pasien, terutama mengenai dugaan dokter baru datang sekitar pukul 09.00–10.00 WITA, sementara pasien telah menunggu sejak pagi dan sebagian kemudian diminta kembali pada hari berikutnya.
RSUD Bima menjelaskan bahwa waktu tunggu pelayanan dokter dapat dipengaruhi kondisi pasien lain, termasuk pasien yang membutuhkan penanganan segera. Penjelasan ini tentu dapat dipahami dalam konteks pelayanan medis, sebab rumah sakit memang harus mendahulukan kondisi yang membutuhkan penanganan.
Tetapi persoalan yang dipertanyakan masyarakat bukan semata-mata soal adanya pasien yang membutuhkan penanganan segera.
Yang perlu dijelaskan secara terbuka adalah bagaimana standar jadwal pelayanan dokter diterapkan, kapan dokter seharusnya mulai memberikan pelayanan, berapa lama rata-rata pasien menunggu, serta apa mekanisme rumah sakit ketika pasien belum mendapatkan pelayanan hingga jam pelayanan berakhir.
Antrean Online Bukan Jawaban untuk Semua Persoalan
RSUD Bima juga menyebut tersedianya antrean online melalui Mobile JKN bagi peserta JKN.
Fasilitas tersebut patut diapresiasi karena dapat membantu mengatur kedatangan pasien dan mengurangi penumpukan antrean.
Namun, antrean online tidak otomatis menyelesaikan persoalan apabila sumber keterlambatan justru berada pada waktu dimulainya pelayanan atau kapasitas pelayanan dokter.
Pasien yang sudah mengambil antrean secara online tetap membutuhkan kepastian bahwa ketika datang sesuai jadwal, pelayanan berjalan dengan sistem yang jelas.
Dengan kata lain, antrean online mengatur nomor dan waktu kedatangan, tetapi tidak boleh menjadi alasan untuk mengabaikan persoalan waktu tunggu yang berlebihan.
Yang Ditunggu Masyarakat Adalah Data dan Evaluasi
RSUD Bima menyatakan akan mengevaluasi jadwal dokter, sistem antrean, waktu tunggu, alur pelayanan hingga komunikasi petugas dengan pasien.
Pernyataan tersebut justru menjadi bagian penting yang patut dikawal.
Jika memang terjadi keterlambatan pelayanan, masyarakat berhak mengetahui apa penyebabnya dan apa langkah korektif yang dilakukan rumah sakit.
Keluhan pasien juga tidak semestinya langsung ditempatkan sebagai persoalan ketidaktahuan masyarakat terhadap sistem antrean. Sebab, masyarakat datang ke rumah sakit membawa kebutuhan yang sangat mendasar: mendapatkan pemeriksaan dan pelayanan kesehatan.
Karena itu, kritik terhadap pelayanan publik tidak harus dimaknai sebagai serangan terhadap institusi.
Kritik adalah alarm agar sistem diperbaiki.
RSUD Bima telah menyatakan membuka ruang pengaduan melalui kanal resmi. Ini langkah positif. Tinggal bagaimana pengaduan tersebut benar-benar ditindaklanjuti berdasarkan data, bukan sekadar dijawab secara normatif.
Metromini Media berpandangan, persoalan ini sebaiknya tidak berhenti pada klarifikasi. Perlu ada pembuktian melalui evaluasi waktu tunggu, jadwal dokter, data antrean dan pengalaman pasien di lapangan.
Sebab pada akhirnya, ukuran keberhasilan pelayanan rumah sakit bukan seberapa baik klarifikasinya dibuat, melainkan seberapa cepat dan manusiawi pasien mendapatkan pelayanan.
Redaksi Metromini Media
"Berani & Lugas"
