Kuda Bima Jadi Komoditas Andalan Perdagangan Nusantara, Surat Tahun 1942 Ungkap Jejak Sejarah
KOTA BIMA | Senin, 13 Juli 2026 - Sebuah dokumen bersejarah bertanggal 29 Juli 1942 mengungkap bahwa kuda Bima telah lama menjadi komoditas unggulan dalam perdagangan antardaerah di Nusantara. Surat yang ditujukan kepada Sultan Bima Muhammad Salahuddin itu menjadi bukti bahwa perdagangan kuda merupakan salah satu penopang ekonomi masyarakat Bima sejak masa awal pendudukan Jepang.
Dokumen tersebut diungkap oleh pegiat sejarah Bima Dewi Ratna Muchlisa melalui unggahan media sosialnya pada 12 Juli 2026. Dalam keterangannya, Dewi menjelaskan bahwa surat itu ditulis oleh Usman, warga Penaraga, yang saat itu menjalankan usaha perdagangan kuda di wilayah Probolinggo, Pasuruan, Bangil, Malang, dan daerah sekitarnya di Jawa Timur.
Dalam surat tersebut, Usman memohon bantuan modal sebesar 1.000 rupiah kepada Sultan Muhammad Salahuddin untuk mengembangkan usaha perdagangan kudanya. Nilai tersebut tergolong besar pada masa itu dan menunjukkan bahwa perdagangan kuda telah menjadi usaha yang memiliki nilai ekonomi tinggi.
Menariknya, dokumen itu juga mencatat bahwa setiap kuda yang akan dikirim ke luar daerah terlebih dahulu menjalani pemeriksaan kesehatan oleh seorang dokter hewan bernama R. Sukarno. Hal ini menunjukkan bahwa pada masa itu telah diterapkan prosedur kesehatan hewan sebelum pengiriman, sebagai bentuk menjaga kualitas ternak dan kelancaran perdagangan.
Dewi Ratna Muchlisa juga mengungkap bahwa ayah Usman bernama Jamaluddin, yang menjabat sebagai Kepala Kampung Rabantala, Rasanae.
Menurutnya, perdagangan kuda Bima bukan hanya berlangsung pada dekade 1940-an. Jauh sebelum itu, kuda Bima telah dikenal sebagai salah satu kuda favorit di berbagai kerajaan di Nusantara, khususnya di wilayah Jawa dan Makassar.
Ia menyebut, kuda Bima sengaja dikembangbiakkan tidak hanya untuk kebutuhan perdagangan, tetapi juga dimanfaatkan sebagai sarana militer dan keamanan Kesultanan Bima. Sejumlah naskah dan kitab kuno dari Jawa bahkan disebut turut mencatat keberadaan serta reputasi kuda Bima sejak masa Majapahit, bahkan pada periode sebelumnya.
"Dokumen ini menjadi salah satu bukti nyata kemajuan perdagangan Kerajaan maupun Kesultanan Bima pada masa lalu, sekaligus memperlihatkan besarnya peran kuda Bima dalam jaringan ekonomi Nusantara," tulis Dewi.
Ia menegaskan bahwa pelestarian dokumen sejarah merupakan bagian penting dalam menjaga identitas daerah.
"Bangsa yang besar selalu merawat kisah sejarahnya. Bangsa yang maju tercermin dari kemampuannya merawat dokumen dan naskah sejarahnya."
Dokumen tersebut memperkaya bukti sejarah bahwa Bima tidak hanya dikenal sebagai daerah penghasil ternak berkualitas, tetapi juga memiliki jaringan perdagangan yang luas hingga Pulau Jawa sejak puluhan bahkan ratusan tahun silam. (RED)
SUMBER: Unggahan dan kajian dokumen sejarah oleh Dewi Ratna Muchlisa, Minggu, 12 Juli 2026, disertai salinan surat bertanggal 29 Juli 1942. (Ket. Foto: Ilustrasi AI)
