Belanda Minta Maaf kepada Warga Maluku atas Tragedi KNIL 1951, Akui Luka Sejarah yang Panjang

 

MALUKU - Pemerintah Belanda secara resmi menyampaikan permohonan maaf kepada warga Maluku atas ketidakadilan sejarah yang dialami sekitar 12.500 mantan prajurit KNIL beserta keluarganya yang dipindahkan ke Belanda pada tahun 1951.

Berdasarkan laporan Kompas.com, permohonan maaf tersebut disampaikan dalam seremoni peresmian sebuah monumen di Pelabuhan Rotterdam pada 21 Juni 2026. Dalam kesempatan itu, pemerintah Belanda mengakui adanya perlakuan yang tidak manusiawi, pengabaian hak-hak para mantan prajurit, serta penderitaan panjang yang mereka alami setelah status kemiliterannya dicabut dan ditempatkan di barak-barak tanpa kepastian masa depan.

Peristiwa tersebut menjadi salah satu bab penting dalam hubungan sejarah antara Belanda dan masyarakat Maluku. Ikatan historis itu hingga kini masih terasa, termasuk dalam dunia olahraga, khususnya sepak bola.

Di Maluku, terutama di wilayah Jazirah Leihitu dan Ambon, dukungan terhadap tim nasional Belanda atau Oranje masih cukup kuat. Hal itu tidak terlepas dari kiprah sejumlah pemain berdarah Maluku yang pernah maupun masih memperkuat tim nasional Belanda, seperti Giovanni van Bronckhorst hingga Tijjani Reijnders.

Fenomena tersebut dinilai mencerminkan hubungan yang kompleks antara sejarah kolonial, identitas budaya, dan kebanggaan terhadap para pemain keturunan Maluku yang berprestasi di panggung sepak bola internasional.

Meski menyimpan luka sejarah, hubungan emosional antara sebagian masyarakat Maluku dan Belanda kini berkembang dalam berbagai bentuk, termasuk melalui olahraga, budaya, dan pengakuan atas peristiwa masa lalu. (RED)

Sumber: Kompas.com
Tanggal Sumber: 25 Juni 2026.

Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url